Dunia ini seperti aplikasi rusak. Sinyal hilang timbul, chat hanya berhenti di 'sedang mengetik,' seolah semesta sedang lag . Langi...

Cerpen Seru: Kau Memegang Tanganku, Tapi Kau Sedang Menandatangani Akhir Kita. Cerpen Seru: Kau Memegang Tanganku, Tapi Kau Sedang Menandatangani Akhir Kita.

Dunia ini seperti aplikasi rusak. Sinyal hilang timbul, chat hanya berhenti di 'sedang mengetik,' seolah semesta sedang lag. Langit menolak pagi, selamanya senja berwarna abu-abu dan janji. Di tengah retakan ini, cinta kita tumbuh, aneh dan absurd.

Aku, Elara, hidup di masa depan. Masa depan yang redup, di mana kenangan adalah mata uang paling berharga. Kau, Kai, terjebak di masa lalu, di era kaset mixtape dan telepon umum yang berdering tanpa henti. Kita bertemu di antara glitch, di celah waktu yang terdistorsi.

Tanganmu terasa nyata, Kai. Hangatnya membakar dinginnya chip implan di pergelangan tanganku. Kita berdansa di bawah lampu neon yang berkedip-kedip, iringan lagu lama yang kau putar dari walkman usang. Kau mengecup keningku, napasmu beraroma tembakau dan nostalgia.

"Elara," bisikmu, suaramu seperti radio rusak. "Jangan lupakan aku."

Tapi bagaimana aku bisa lupa? Kau adalah satu-satunya koneksi ke dunia sebelum dunia ini BERANTAKAN. Kau adalah janji mentari yang mungkin takkan pernah terbit.

Di sudut mataku, aku melihat kau sedang mengetik. Di sebuah tablet usang yang seharusnya sudah jadi artefak museum. Jari-jarimu lincah, bukan membalas pesanku, tapi menandatangani sesuatu. Sebuah dokumen. Sebuah... PERJANJIAN.

"Apa yang kau lakukan, Kai?" tanyaku, suaraku bergetar.

Kau menatapku, mata itu berkilat aneh. Bukan cinta yang kulihat, tapi kalkulasi dingin. "Maafkan aku, Elara. Aku harus MELAKUKANNYA."

Tablet itu memancarkan cahaya biru. Kau menghilang, seperti piksel yang tiba-tiba padam. Tanganmu terlepas dari tanganku. Yang tersisa hanyalah angin dingin dan bau ozon yang menyengat.

Aku memeriksa tablet itu. Dokumen itu berjudul: Perjanjian Penghentian Anomali Temporal Proyek Nostalgia.

Lalu aku mengerti. Kita bukan dua orang yang saling menemukan di tengah kehancuran. Kita hanyalah bagian dari eksperimen gila. Aku adalah produk rekayasa genetika, dirancang untuk merindukan masa lalu. Kau adalah agen dari masa lalu, ditugaskan untuk menghapus keberadaan kami, MENANDATANGANI akhir dari siklus yang tak pernah seharusnya dimulai.

Cinta kita... hanyalah gema dari kehidupan yang tak pernah selesai. Sebuah program yang berjalan di server rusak, menunggu untuk di-uninstall.

Sinyal hilang, Elara...

You Might Also Like: Seru Bayangan Yang Membisikkan Nama Di

Hujan abu menyelimuti kota Chang'an, sama kelabunya dengan kenangan yang menghantui Xiao Mei. Di bawah payung sutra ungu, ia berdiri di...

Kisah Populer: Cinta Yang Mati Tapi Tak Pernah Hilang Kisah Populer: Cinta Yang Mati Tapi Tak Pernah Hilang

Hujan abu menyelimuti kota Chang'an, sama kelabunya dengan kenangan yang menghantui Xiao Mei. Di bawah payung sutra ungu, ia berdiri di depan makam Lin Feng, kekasihnya. Lima tahun berlalu sejak malam berdarah itu, malam ketika panah beracun merenggut nyawa Lin Feng, meninggalkan Xiao Mei dengan hati yang membeku dan janji yang tak tertepati.

Dulu, di bawah rembulan purnama, Lin Feng berjanji, "Xiao Mei, setelah peperangan ini usai, aku akan kembali. Kita akan menikah di bawah pohon persik yang sedang mekar. Aku berjanji, nyawaku untukmu." Janji itu, kini, hanya gema di telinga Xiao Mei, sekeras suara genderang perang yang membawanya pergi.

Xiao Mei mengusap nisan yang dingin. "Lin Feng," bisiknya, suaranya bergetar, "Kau tahu betapa aku membencimu, kan? Kau meninggalkan aku. Kau melanggar janji kita. Kau mati sebelum aku bisa mencintaimu sepenuh hati." Air mata mengalir di pipinya, bercampur dengan sisa abu vulkanik.

Malam itu, Xiao Mei bertemu dengan Jenderal Zhao, dalang di balik kematian Lin Feng. Ia mendapati Jenderal itu gemetar ketakutan, bukan karena dendam Xiao Mei, melainkan karena penyakit misterius yang menggerogotinya dari dalam. Para tabib istana pun buntu. Penyakit itu, kata mereka, adalah kutukan. Kutukan yang tak terlihat, tak terobati, namun mematikan.

Xiao Mei menatap Jenderal Zhao dengan tatapan dingin. Tidak ada amarah, tidak ada teriakan. Hanya tatapan kosong, sejernih mata seorang dewi kematian. Ia tahu, Jenderal itu akan menderita. Ia akan meratap, merindukan kematian yang tak kunjung datang. Balas dendam Xiao Mei bukan dengan pedang atau racun, melainkan dengan ketiadaan. Ketiadaan pengampunan, ketiadaan belas kasihan.

"Kau ingat pohon persik di taman selatan, Jenderal?" tanya Xiao Mei, suaranya pelan, hampir tidak terdengar. "Dulu, aku dan Lin Feng sering bermain di sana. Sekarang... pohon itu telah mati."

Jenderal Zhao terbatuk, darah membasahi janggutnya. "Aku… aku tidak tahu…"

Xiao Mei tersenyum tipis. "Tak perlu tahu, Jenderal. Takdir sudah menulis kisahnya sendiri."

Keesokan harinya, Jenderal Zhao ditemukan tewas di tempat tidurnya. Tubuhnya kering kerontang, seolah sari kehidupannya telah disedot habis. Dokter mendiagnosis gagal organ, namun Xiao Mei tahu, itu adalah keadilan sunyi dari takdir.

Di depan makam Lin Feng, Xiao Mei menaburkan abu Jenderal Zhao. Angin bertiup kencang, menerbangkan abu itu jauh ke cakrawala.

Cinta yang mati, takdir yang menuntut: Apakah ini akhir, atau permulaan dari siklus abadi?

You Might Also Like: Peluang Bisnis Skincare Bimbingan

Kabut lavender menyelimuti Kota Giok. Hujan gerimis membasahi atap-atap pagoda, menciptakan melodi sendu yang terasa familier sekaligus asi...

Cerita Populer: Kau Menatapku Dengan Marah, Tapi Aku Tahu Itu Cinta Yang Hancur. Cerita Populer: Kau Menatapku Dengan Marah, Tapi Aku Tahu Itu Cinta Yang Hancur.

Kabut lavender menyelimuti Kota Giok. Hujan gerimis membasahi atap-atap pagoda, menciptakan melodi sendu yang terasa familier sekaligus asing. Aku, Lin Mei, berdiri di balkon kedai tehku, menatap sosok itu. Dia, Pangeran Jing, sang jenderal muda kebanggaan kekaisaran. Matanya menyala dengan amarah saat menatapku, namun di kedalamannya, aku melihat... sesuatu yang lain. Sesuatu yang patah.

"Lin Mei!" suaranya menggelegar, memecah keheningan pagi. "Kau berani menolak lamaran Kaisar untuk menjadi selirnya! Kau menghina seluruh kekaisaran!"

Aku hanya tersenyum tipis, menyesap tehku. Rasa pahit teh persik ini terasa lebih familiar daripada yang seharusnya.

"Pangeran Jing," jawabku lembut, "hatiku sudah dimiliki."

Kebingungan melintas di matanya, hanya sekejap sebelum kembali tertutup kabut amarah. Tapi cukup bagi aku untuk melihatnya.

Setiap malam, mimpi-mimpi aneh menghantuiku. Adegan-adegan peperangan, istana megah, dan seorang wanita bernama Lan, yang dicintai seorang jenderal. Lan adalah aku, atau lebih tepatnya, aku pernah menjadi Lan. Seorang tabib istana yang mencintai jenderalnya, yang tanpa sadar terjerat dalam intrik kekaisaran.

Lalu, ingatan itu datang seperti pecahan kaca menusuk jantungku. Pengkhianatan. Jing, jenderal yang kucintai, dia yang membocorkan rencanaku untuk menyelamatkan Kaisar yang diracun. Dia yang menyerahkanku ke musuh, demi ambisinya.

Kenapa?

Setiap tatapan marahnya terasa seperti siksaan. Setiap kata kasarnya terdengar seperti jeritan masa lalu. Dia tidak ingat. Dia tidak tahu bahwa aku, Lin Mei, adalah reinkarnasi Lan, wanita yang dikhianatinya berabad-abad lalu.

Aku tidak menginginkan balas dendam yang berdarah-darah. Balas dendamku adalah kebebasan. Aku akan menolak Kaisar, dan aku akan memastikan bahwa Pangeran Jing tidak pernah meraih kekuasaan yang dia inginkan. Aku akan menggunakan pengetahuanku tentang masa lalu untuk mengubah masa depan.

Suatu hari, Kaisar jatuh sakit. Tabib istana kebingungan. Hanya aku yang tahu racun yang digunakannya, racun yang sama dengan yang digunakan padanya di kehidupan sebelumnya. Pangeran Jing memohon padaku untuk membantu Kaisar.

Aku menatapnya, matanya yang penuh harapan, wajahnya yang dipenuhi kekhawatiran. Begitu mudahnya kau percaya padaku, bahkan setelah penghinaan yang kulakukan.

Aku memberinya penawar racun palsu. Perlahan, sangat perlahan, Kaisar meninggal dunia. Pangeran Jing, yang dituduh gagal menyelamatkan Kaisar, diasingkan dari istana. Ambisinya hancur berkeping-keping.

Aku berdiri di depan makam Lan, menaburkan kelopak bunga persik. Angin bertiup pelan, membawa aroma teh persik ke udara.

"Aku tidak membunuhnya," bisikku pada batu nisan. "Aku hanya membiarkannya menuai apa yang ditaburnya. Sekarang... aku bebas."

Saat senja merayap, aku berbalik dan meninggalkan makam itu, meninggalkan masa lalu untuk selamanya. Tapi aku tahu, jauh di lubuk hatiku, kita akan bertemu lagi, di kehidupan yang lain, di waktu yang berbeda, dan kisah kita... mungkin baru akan dimulai saat itu.

You Might Also Like: Agen Kosmetik Bisnis Tanpa Modal Kota

Aku Menulis Janji di Udara, Tapi Angin Membawanya ke Surga Angin berdesir di Lembah Bunga Persik, membawa aroma manis yang familiar . Bai ...

Ini Baru Drama! Aku Menulis Janji Di Udara, Tapi Angin Membawanya Ke Surga Ini Baru Drama! Aku Menulis Janji Di Udara, Tapi Angin Membawanya Ke Surga

Aku Menulis Janji di Udara, Tapi Angin Membawanya ke Surga

Angin berdesir di Lembah Bunga Persik, membawa aroma manis yang familiar. Bai Lian, seorang pelukis muda yang baru saja pindah ke desa terpencil itu, berhenti sejenak. Aroma ini… seolah memanggil jiwa yang lama tertidur. Ia menutup mata, mencoba mengingat sesuatu yang hilang, namun hanya ada kabut dan denyutan nyeri di pelipisnya.

Seratus tahun yang lalu, di tempat yang sama, ia – bukan Bai Lian, tapi seorang selir bernama Mei Xiang – berdiri di bawah pohon persik yang sama, menulis janji di selembar kertas sutra. Janjinya pada seorang pangeran, janji cinta yang abadi, meski dosa memisahkan mereka. Janji yang ia terbangkan ke udara, berharap angin membawanya ke pangeran terkasih. Namun, angin berkhianat. Kertas sutra itu terbang terlalu tinggi, terlalu jauh… hingga ke surga.

Bai Lian bertemu dengan seorang pria bernama Zhang Wei. Pria itu misterius, dengan tatapan mata yang menyimpan kesedihan abadi. Suaranya… suaranya membuat Bai Lian merasa seolah pernah mendengarnya dalam mimpi-mimpinya yang paling purba. Zhang Wei, tanpa alasan yang jelas, sangat tertarik pada Bai Lian. Ia tahu tentang bunga persik, tentang lembah ini, tentang… Mei Xiang.

Setiap kali Bai Lian melukis, Zhang Wei selalu ada di dekatnya. Ia sering memberikan petunjuk, saran, bahkan sepotong informasi tentang teknik melukis yang anehnya sangat Bai Lian pahami, padahal ia tidak pernah mempelajarinya secara formal. Mereka berdua merasa terikat oleh benang merah tak kasat mata, benang merah yang ditenun dari masa lalu yang kelam.

Seiring waktu, ingatan Bai Lian mulai kembali. Potongan-potongan masa lalu berkelebat dalam mimpinya: istana megah, intrik politik, ciuman terlarang di bawah rembulan, dan… pengkhianatan. Ia ingat Mei Xiang, selir kesayangan yang dituduh berkhianat dan dihukum mati. Ia ingat Pangeran Li, kekasihnya, yang tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkannya. Ia ingat janji yang ia tulis di udara, janji yang kini berdebu di surga.

Zhang Wei… ia adalah Pangeran Li. Reinkarnasi Pangeran Li. Ia telah mencari Mei Xiang selama seratus tahun, melintasi kehidupan dan kematian, hanya untuk menemukan belahan jiwanya.

Namun, kebenaran yang sebenarnya lebih pahit dari yang mereka bayangkan. Bukan hanya intrik istana yang memisahkan mereka, tapi juga dosa yang lebih besar. Mei Xiang tidak hanya dituduh berkhianat, tapi ia benar-benar berkhianat. Ia mata-mata, yang diutus untuk membunuh Pangeran Li. Ia mencintai pangeran, tapi ia juga terikat janji pada musuh. Ketika ia memutuskan untuk mengakui kejahatannya, ia sudah terlambat.

Bai Lian, sebagai reinkarnasi Mei Xiang, merasakan sakit yang teramat dalam. Ia bukan hanya korban, tapi juga pelaku. Dendam? Marah? Tidak. Ia memilih keheningan. Ia membalas dendam bukan dengan amarah, tapi dengan pengampunan yang menusuk. Ia memaafkan dirinya sendiri, memaafkan Pangeran Li yang telah menderita selama seratus tahun, memaafkan dunia yang penuh dengan intrik dan kebohongan.

Ia kembali melukis. Kali ini, ia melukis Pangeran Li di bawah pohon persik, tersenyum. Ia melukis janji yang terbang ke surga, janji yang akhirnya menemukan kedamaian. Ia melukis… kebebasan.

Zhang Wei menatap lukisan itu dengan tatapan kosong. Ia mengerti. Balas dendam terbaik bukanlah dengan membalas kejahatan, tapi dengan melepaskan masa lalu dan merangkul masa depan.

Bai Lian meninggalkan desa itu, meninggalkan Zhang Wei, meninggalkan semua ingatan masa lalu. Ia pergi, membawa serta keheningan dan pengampunan, menuju takdirnya yang baru.

Di malam yang sunyi, angin kembali berdesir di Lembah Bunga Persik. Zhang Wei berdiri di bawah pohon persik, menatap langit. Ia mendengar bisikan, lirih, seolah datang dari kehidupan sebelumnya: " Sampai jumpa di kehidupan selanjutnya… Janjiku… "

You Might Also Like: Rahasia Dibalik Arti Mimpi Membunuh

Cinta yang Mengakhiri Segalanya Embun pagi membasahi kelopak sakura, selembut sentuhan jari Li Mei pada wajah tidur Lin Yi. Udara sejuk me...

Endingnya Gini! Cinta Yang Mengakhiri Segalanya Endingnya Gini! Cinta Yang Mengakhiri Segalanya

Cinta yang Mengakhiri Segalanya

Embun pagi membasahi kelopak sakura, selembut sentuhan jari Li Mei pada wajah tidur Lin Yi. Udara sejuk menusuk tulang, namun hatinya hangat melihat pria yang dicintainya terlelap. Lima tahun sudah berlalu sejak mereka mengikrarkan janji suci di bawah pohon persik yang sedang mekar. Lima tahun penuh tawa, air mata, dan sebuah rahasia yang membelit jiwanya seperti benang sutra yang mencekik.

Li Mei, pewaris tunggal keluarga Shen yang kaya raya, hidup dalam kebohongan. Ia menyembunyikan identitas aslinya dari Lin Yi, seorang pelukis sederhana dengan jiwa yang tulus. Ia takut, jika kebenaran terungkap, Lin Yi akan meninggalkannya, menganggap cintanya tak lebih dari sandiwara orang kaya yang bosan.

Namun, kebenaran punya cara sendiri untuk mengungkap diri.

Lin Yi, di sisi lain, adalah pria yang haus akan kebenaran. Lukisannya adalah cerminan jiwanya yang jujur. Ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan Li Mei, sebuah kegelapan yang tersembunyi di balik senyum manisnya. Ia mulai menyelidiki, diam-diam, perlahan, seperti air yang mengikis batu karang.

Konflik mulai tumbuh seperti jamur di musim hujan. Kecurigaan menggerogoti kepercayaan. Pertengkaran kecil menjadi badai yang mengancam menghancurkan bahtera cinta mereka. Li Mei semakin tertekan, kebohongannya semakin memburuk, menjebaknya dalam jaring yang ia rajut sendiri.

"Li Mei, kenapa kau selalu menghindar?" tanya Lin Yi suatu malam, matanya menyorot tajam, menembus pertahanannya. "Ada apa yang kau sembunyikan?"

Li Mei terdiam. Malam itu adalah malam di mana segalanya akan berubah.

Akhirnya, kebenaran terungkap. Lin Yi menemukan surat-surat lama, foto-foto yang disembunyikan, bukti yang tak terbantahkan tentang siapa Li Mei sebenarnya. Rasa sakitnya tak terlukiskan. Penghianatan ini lebih dalam dari luka tusuk belati.

"Kau... kau membohongiku?" bisik Lin Yi, suaranya nyaris tak terdengar. Matanya yang biasanya berbinar kini redup, dipenuhi kekecewaan dan amarah.

Li Mei berusaha menjelaskan, memohon ampun, namun terlambat. Kebohongan telah meracuni cinta mereka. Lin Yi tak lagi percaya padanya.

Beberapa bulan kemudian, Li Mei menemukan Lin Yi melukis di tepi sungai. Lukisannya indah, menawan, namun menyimpan kesedihan yang mendalam. Ia mendekat, berlutut di hadapannya.

"Lin Yi, maafkan aku," ucapnya dengan suara bergetar.

Lin Yi menatapnya, tatapannya dingin, tanpa emosi. Ia tersenyum tipis, senyum yang lebih menyakitkan dari tamparan.

"Maaf? Maaf tidak cukup, Li Mei," jawabnya pelan. "Kau menghancurkan segalanya."

Lin Yi menyerahkan sebuah lukisan pada Li Mei. Lukisan itu menggambarkan potret mereka berdua, namun wajah Li Mei dikaburkan, seolah tak pernah ada.

"Ini adalah pengingat," kata Lin Yi, suaranya bagai desiran angin yang dingin. "Pengingat bahwa cinta kita hanyalah ilusi."

Lin Yi bangkit, berbalik, dan berjalan menjauh, meninggalkan Li Mei dengan lukisan itu. Ia tak menoleh sedikit pun.

Balas dendam Lin Yi sangat sederhana, namun efektif. Ia mengambil kembali hatinya, menghapus Li Mei dari hidupnya, seolah wanita itu tak pernah ada. Senyumnya, walau terlihat tenang, adalah senyum perpisahan abadi.

Lin Yi pergi, meninggalkan Li Mei di dunia mewahnya yang sunyi, dengan penyesalan yang akan menghantuinya selamanya.

Apakah kebahagiaan yang dibangun di atas kebohongan akan pernah benar-benar abadi?

You Might Also Like: Distributor Skincare Passive Income

Pedang yang Menyimpan Jiwa Lama Dulu, ia dikenal sebagai Putri Lian, bunga teratai kekaisaran yang dicintai dan dipuja. Kulitnya seputih s...

SERU! Pedang Yang Menyimpan Jiwa Lama SERU! Pedang Yang Menyimpan Jiwa Lama

Pedang yang Menyimpan Jiwa Lama

Dulu, ia dikenal sebagai Putri Lian, bunga teratai kekaisaran yang dicintai dan dipuja. Kulitnya seputih salju, senyumnya mampu meruntuhkan tembok terkokoh sekalipun. Namun, cinta dan kekuasaan adalah dua bilah pedang yang menghancurkannya. Ia dikhianati, dijebak, dan ditinggalkan mati di padang pasir yang membara. Cinta Pangeran Mahkota, yang dulu terasa manis bagai madu, berubah menjadi racun mematikan. Kekuasaan, yang dulu dijanjikan sebagai haknya, direnggut dengan kejam.

Kini, ia bukan lagi Putri Lian. Namanya adalah Bai Lian, seorang pendekar pedang misterius dengan tatapan sedingin es. Wajahnya tersembunyi di balik cadar sutra, menyisakan hanya sepasang mata yang menyimpan lautan luka. Luka yang tak pernah sembuh, tetapi juga luka yang menempanya menjadi baja. Ia menjelajahi medan perang, bukan untuk menaklukkan, melainkan untuk mengumpulkan potongan-potongan jiwanya yang hilang. Setiap pertumpahan darah, setiap desingan pedang, adalah simfoni kesedihan yang menemani perjalanannya.

Pedangnya, yang bernama 'Renjana' (Rindu yang Mendalam), bukan sekadar senjata. Di dalamnya bersemayam jiwa-jiwa yang tersesat, arwah-arwah yang terluka oleh ketidakadilan. Bai Lian bisa berkomunikasi dengan mereka, merasakan penderitaan mereka, dan menyalurkan kekuatan mereka. Renjana adalah perpanjangan dari hatinya, saksi bisu atas pengkhianatan yang dialaminya.

Ia bukan mencari balas dendam dengan amarah membabi buta. Tidak. Bai Lian bergerak dengan KETENANGAN MEMATIKAN. Setiap langkahnya diperhitungkan, setiap senyum sinisnya adalah racun yang bekerja perlahan. Ia mempelajari kelemahan musuh-musuhnya, mengorek rahasia terkelam mereka, dan menggunakan informasi itu untuk menghancurkan mereka dari dalam. Ia seperti bunga teratai yang tumbuh di atas genangan darah, indah namun mematikan.

Pangeran Mahkota, yang kini telah menjadi Kaisar, tidak menyadari bahwa bayangan masa lalu itu semakin mendekat. Ia sibuk menikmati kekuasaan dan kemewahan, buta terhadap ancaman yang mengintai. Ketika Bai Lian akhirnya muncul di hadapannya, di singgasana kekaisaran, sang Kaisar melihat bukan Putri Lian yang dulu dicintainya, melainkan sosok asing yang penuh dengan KEKUATAN GELAP.

Pertempuran terakhir terjadi di tengah badai salju. Pedang Renjana menari dengan anggun namun mematikan, menebas segala rintangan. Bai Lian tidak berteriak, tidak menangis. Ia hanya menatap sang Kaisar dengan tatapan yang penuh dengan kekecewaan. Ketika pedang itu akhirnya menembus jantung sang Kaisar, Bai Lian merasakan bukan kepuasan, melainkan kehampaan yang lebih dalam. Balas dendam tidak membawa kedamaian. Balas dendam hanya meninggalkan luka yang semakin menganga.

Ia meninggalkan istana yang berlumuran darah, berjalan sendirian di bawah badai salju. Di tangannya, ia menggenggam pedang Renjana, satu-satunya teman setianya. Ia telah merebut kembali apa yang telah direnggut darinya, tetapi ia juga kehilangan segalanya.

Dan, akhirnya, setelah sekian lama, ia mengerti, bahwa mahkota sejati bukanlah kekuasaan, bukanlah cinta, melainkan… KEBEBASAN!

You Might Also Like: 0895403292432 Distributor Kosmetik

Mahkota yang Menyala di Tengah Api Hening. Sunyi memeluk Pagoda Giok, hanya desah angin yang berbisik melewati lentera-lentera kertas yan...

Seru Sih Ini! Mahkota Yang Menyala Di Tengah Api Seru Sih Ini! Mahkota Yang Menyala Di Tengah Api


Mahkota yang Menyala di Tengah Api

Hening. Sunyi memeluk Pagoda Giok, hanya desah angin yang berbisik melewati lentera-lentera kertas yang menggantung lesu. Di balkon teratas, Rouxi berdiri. Gaun sutra birunya berkibar pelan, bagai gelombang danau yang terluka. Di tangannya, cangkir porselen putih terasa dingin. Dulu, cangkir ini selalu hangat diisi teh oleh Dia.

Dia. Nama itu bagai pecahan kaca yang menusuk kalbunya setiap kali terucap. Pangeran Li Wei, tunangannya, belahan jiwanya… pengkhianatnya. Rouxi menyaksikan sendiri, di bawah cahaya rembulan purnama, bagaimana Li Wei mencium bibir Lan, sahabatnya sejak kecil. Sebuah tusukan yang lebih perih dari ribuan pedang.

Namun, Rouxi tidak berteriak, tidak menangis meraung. Ia hanya berbalik, melangkah menjauh, meninggalkan pesta pertunangan yang berubah menjadi panggung sandiwara. Bukan karena lemah, melainkan karena ia tahu terlalu banyak. Ia tahu bahwa Li Wei, dengan senyum manis dan tatapan memikatnya, menyimpan ambisi gelap. Ia tahu tentang rencana pemberontakan yang akan menumbangkan Kaisar.

Rahasia itu, terpatri dalam hatinya, adalah pedang bermata dua. Jika ia membongkar kebusukan Li Wei, kerajaan akan selamat, tapi ia juga akan menyeret keluarganya ke dalam jurang kehancuran. Ayahnya, Jenderal besar yang setia pada Kaisar, akan dicap sebagai pengkhianat karena darah Li Wei mengalir di tubuh Rouxi.

Malam demi malam, Rouxi hidup dalam kebisuan. Ia menolak bertemu Li Wei, mengurung diri di Pagoda Giok, dan hanya ditemani alunan guqin yang lirih. Nada-nada itu adalah jeritan hatinya, penyesalannya, dan juga… harapan samar.

Satu hal yang mengganjal pikirannya. Malam itu, ketika ia memergoki Li Wei dan Lan, ia melihat sesuatu yang aneh di jari Lan. Sebuah cincin perak dengan batu akik merah delima. Cincin itu, identik dengan cincin yang diberikan Ibunda Ratu kepada Rouxi sebelum wafat. Ibunda Ratu selalu berpesan, "Cincin ini adalah perlindunganmu, nak. Jangan pernah melepaskannya."

Lalu, bagaimana cincin itu bisa berada di jari Lan?

Berbulan-bulan berlalu. Pemberontakan Li Wei meletus. Langit ibu kota merah membara. Pedang beradu, darah tumpah ruah. Di tengah kekacauan, Rouxi tetap tenang. Ia tahu, takdir sedang memainkan peranannya.

Kabar buruk datang. Li Wei berhasil mendekati Kaisar. Istana runtuh. Namun, sebelum Li Wei berhasil merebut takhta, sesuatu terjadi.

Lan, dengan wajah pucat pasi, menikam Li Wei dari belakang!

"Aku… aku melakukan ini untukmu, Rouxi," bisik Lan, sebelum akhirnya roboh. Sebuah anak panah menembus dadanya.

Di tangan Lan, tergenggam erat cincin perak dengan batu akik merah delima. Rouxi baru menyadari. Lan bukan hanya sahabatnya, tapi juga kembaran identiknya. Ibunda Ratu, sebelum wafat, telah mengatur segalanya. Ia menitipkan Lan kepada seorang biksu di kuil terpencil, untuk melindunginya dari intrik istana.

Cincin itu adalah tanda. Jika Rouxi dalam bahaya, Lan akan datang untuk menyelamatkannya.

Pemberontakan Li Wei berhasil dipadamkan. Bukan oleh Rouxi, bukan oleh Kaisar, melainkan oleh Lan, saudara kembarnya yang rela mengorbankan nyawa.

Rouxi menatap langit yang mulai memerah. Kekaisaran akan dibangun kembali. Tapi, ia tahu, ia tidak akan pernah bisa melupakan pengkhianatan, pengorbanan, dan rahasia yang ia simpan rapat-rapat.

Ia tidak pernah mencintai Li Wei. Cincin itu tidak pernah ada di jarinya, melainkan di jari Lan. Dan sekarang, Lan telah pergi, membawa serta kebenaran yang selamanya akan terkubur bersamanya.

Mahkota kekaisaran mungkin akan bersinar kembali, tapi mahkotanya, mahkota pengetahuannya, akan terus menyala di tengah api penyesalan…

Apakah kebebasan sejati pernah benar-benar menjadi miliknya?

You Might Also Like: 103 Manfaat Moisturizer Lokal Untuk