Hujan abu menyelimuti kota Chang'an, sama kelabunya dengan kenangan yang menghantui Xiao Mei. Di bawah payung sutra ungu, ia berdiri di depan makam Lin Feng, kekasihnya. Lima tahun berlalu sejak malam berdarah itu, malam ketika panah beracun merenggut nyawa Lin Feng, meninggalkan Xiao Mei dengan hati yang membeku dan janji yang tak tertepati.
Dulu, di bawah rembulan purnama, Lin Feng berjanji, "Xiao Mei, setelah peperangan ini usai, aku akan kembali. Kita akan menikah di bawah pohon persik yang sedang mekar. Aku berjanji, nyawaku untukmu." Janji itu, kini, hanya gema di telinga Xiao Mei, sekeras suara genderang perang yang membawanya pergi.
Xiao Mei mengusap nisan yang dingin. "Lin Feng," bisiknya, suaranya bergetar, "Kau tahu betapa aku membencimu, kan? Kau meninggalkan aku. Kau melanggar janji kita. Kau mati sebelum aku bisa mencintaimu sepenuh hati." Air mata mengalir di pipinya, bercampur dengan sisa abu vulkanik.
Malam itu, Xiao Mei bertemu dengan Jenderal Zhao, dalang di balik kematian Lin Feng. Ia mendapati Jenderal itu gemetar ketakutan, bukan karena dendam Xiao Mei, melainkan karena penyakit misterius yang menggerogotinya dari dalam. Para tabib istana pun buntu. Penyakit itu, kata mereka, adalah kutukan. Kutukan yang tak terlihat, tak terobati, namun mematikan.
Xiao Mei menatap Jenderal Zhao dengan tatapan dingin. Tidak ada amarah, tidak ada teriakan. Hanya tatapan kosong, sejernih mata seorang dewi kematian. Ia tahu, Jenderal itu akan menderita. Ia akan meratap, merindukan kematian yang tak kunjung datang. Balas dendam Xiao Mei bukan dengan pedang atau racun, melainkan dengan ketiadaan. Ketiadaan pengampunan, ketiadaan belas kasihan.
"Kau ingat pohon persik di taman selatan, Jenderal?" tanya Xiao Mei, suaranya pelan, hampir tidak terdengar. "Dulu, aku dan Lin Feng sering bermain di sana. Sekarang... pohon itu telah mati."
Jenderal Zhao terbatuk, darah membasahi janggutnya. "Aku… aku tidak tahu…"
Xiao Mei tersenyum tipis. "Tak perlu tahu, Jenderal. Takdir sudah menulis kisahnya sendiri."
Keesokan harinya, Jenderal Zhao ditemukan tewas di tempat tidurnya. Tubuhnya kering kerontang, seolah sari kehidupannya telah disedot habis. Dokter mendiagnosis gagal organ, namun Xiao Mei tahu, itu adalah keadilan sunyi dari takdir.
Di depan makam Lin Feng, Xiao Mei menaburkan abu Jenderal Zhao. Angin bertiup kencang, menerbangkan abu itu jauh ke cakrawala.
Cinta yang mati, takdir yang menuntut: Apakah ini akhir, atau permulaan dari siklus abadi?
You Might Also Like: Peluang Bisnis Skincare Bimbingan
0 Comments: