Dunia ini seperti aplikasi rusak. Sinyal hilang timbul, chat hanya berhenti di 'sedang mengetik,' seolah semesta sedang lag . Langi...

Cerpen Seru: Kau Memegang Tanganku, Tapi Kau Sedang Menandatangani Akhir Kita. Cerpen Seru: Kau Memegang Tanganku, Tapi Kau Sedang Menandatangani Akhir Kita.

Cerpen Seru: Kau Memegang Tanganku, Tapi Kau Sedang Menandatangani Akhir Kita.

Cerpen Seru: Kau Memegang Tanganku, Tapi Kau Sedang Menandatangani Akhir Kita.

Dunia ini seperti aplikasi rusak. Sinyal hilang timbul, chat hanya berhenti di 'sedang mengetik,' seolah semesta sedang lag. Langit menolak pagi, selamanya senja berwarna abu-abu dan janji. Di tengah retakan ini, cinta kita tumbuh, aneh dan absurd.

Aku, Elara, hidup di masa depan. Masa depan yang redup, di mana kenangan adalah mata uang paling berharga. Kau, Kai, terjebak di masa lalu, di era kaset mixtape dan telepon umum yang berdering tanpa henti. Kita bertemu di antara glitch, di celah waktu yang terdistorsi.

Tanganmu terasa nyata, Kai. Hangatnya membakar dinginnya chip implan di pergelangan tanganku. Kita berdansa di bawah lampu neon yang berkedip-kedip, iringan lagu lama yang kau putar dari walkman usang. Kau mengecup keningku, napasmu beraroma tembakau dan nostalgia.

"Elara," bisikmu, suaramu seperti radio rusak. "Jangan lupakan aku."

Tapi bagaimana aku bisa lupa? Kau adalah satu-satunya koneksi ke dunia sebelum dunia ini BERANTAKAN. Kau adalah janji mentari yang mungkin takkan pernah terbit.

Di sudut mataku, aku melihat kau sedang mengetik. Di sebuah tablet usang yang seharusnya sudah jadi artefak museum. Jari-jarimu lincah, bukan membalas pesanku, tapi menandatangani sesuatu. Sebuah dokumen. Sebuah... PERJANJIAN.

"Apa yang kau lakukan, Kai?" tanyaku, suaraku bergetar.

Kau menatapku, mata itu berkilat aneh. Bukan cinta yang kulihat, tapi kalkulasi dingin. "Maafkan aku, Elara. Aku harus MELAKUKANNYA."

Tablet itu memancarkan cahaya biru. Kau menghilang, seperti piksel yang tiba-tiba padam. Tanganmu terlepas dari tanganku. Yang tersisa hanyalah angin dingin dan bau ozon yang menyengat.

Aku memeriksa tablet itu. Dokumen itu berjudul: Perjanjian Penghentian Anomali Temporal Proyek Nostalgia.

Lalu aku mengerti. Kita bukan dua orang yang saling menemukan di tengah kehancuran. Kita hanyalah bagian dari eksperimen gila. Aku adalah produk rekayasa genetika, dirancang untuk merindukan masa lalu. Kau adalah agen dari masa lalu, ditugaskan untuk menghapus keberadaan kami, MENANDATANGANI akhir dari siklus yang tak pernah seharusnya dimulai.

Cinta kita... hanyalah gema dari kehidupan yang tak pernah selesai. Sebuah program yang berjalan di server rusak, menunggu untuk di-uninstall.

Sinyal hilang, Elara...

You Might Also Like: Seru Bayangan Yang Membisikkan Nama Di

0 Comments: