Kabut lavender menyelimuti Kota Giok. Hujan gerimis membasahi atap-atap pagoda, menciptakan melodi sendu yang terasa familier sekaligus asing. Aku, Lin Mei, berdiri di balkon kedai tehku, menatap sosok itu. Dia, Pangeran Jing, sang jenderal muda kebanggaan kekaisaran. Matanya menyala dengan amarah saat menatapku, namun di kedalamannya, aku melihat... sesuatu yang lain. Sesuatu yang patah.
"Lin Mei!" suaranya menggelegar, memecah keheningan pagi. "Kau berani menolak lamaran Kaisar untuk menjadi selirnya! Kau menghina seluruh kekaisaran!"
Aku hanya tersenyum tipis, menyesap tehku. Rasa pahit teh persik ini terasa lebih familiar daripada yang seharusnya.
"Pangeran Jing," jawabku lembut, "hatiku sudah dimiliki."
Kebingungan melintas di matanya, hanya sekejap sebelum kembali tertutup kabut amarah. Tapi cukup bagi aku untuk melihatnya.
Setiap malam, mimpi-mimpi aneh menghantuiku. Adegan-adegan peperangan, istana megah, dan seorang wanita bernama Lan, yang dicintai seorang jenderal. Lan adalah aku, atau lebih tepatnya, aku pernah menjadi Lan. Seorang tabib istana yang mencintai jenderalnya, yang tanpa sadar terjerat dalam intrik kekaisaran.
Lalu, ingatan itu datang seperti pecahan kaca menusuk jantungku. Pengkhianatan. Jing, jenderal yang kucintai, dia yang membocorkan rencanaku untuk menyelamatkan Kaisar yang diracun. Dia yang menyerahkanku ke musuh, demi ambisinya.
Kenapa?
Setiap tatapan marahnya terasa seperti siksaan. Setiap kata kasarnya terdengar seperti jeritan masa lalu. Dia tidak ingat. Dia tidak tahu bahwa aku, Lin Mei, adalah reinkarnasi Lan, wanita yang dikhianatinya berabad-abad lalu.
Aku tidak menginginkan balas dendam yang berdarah-darah. Balas dendamku adalah kebebasan. Aku akan menolak Kaisar, dan aku akan memastikan bahwa Pangeran Jing tidak pernah meraih kekuasaan yang dia inginkan. Aku akan menggunakan pengetahuanku tentang masa lalu untuk mengubah masa depan.
Suatu hari, Kaisar jatuh sakit. Tabib istana kebingungan. Hanya aku yang tahu racun yang digunakannya, racun yang sama dengan yang digunakan padanya di kehidupan sebelumnya. Pangeran Jing memohon padaku untuk membantu Kaisar.
Aku menatapnya, matanya yang penuh harapan, wajahnya yang dipenuhi kekhawatiran. Begitu mudahnya kau percaya padaku, bahkan setelah penghinaan yang kulakukan.
Aku memberinya penawar racun palsu. Perlahan, sangat perlahan, Kaisar meninggal dunia. Pangeran Jing, yang dituduh gagal menyelamatkan Kaisar, diasingkan dari istana. Ambisinya hancur berkeping-keping.
Aku berdiri di depan makam Lan, menaburkan kelopak bunga persik. Angin bertiup pelan, membawa aroma teh persik ke udara.
"Aku tidak membunuhnya," bisikku pada batu nisan. "Aku hanya membiarkannya menuai apa yang ditaburnya. Sekarang... aku bebas."
Saat senja merayap, aku berbalik dan meninggalkan makam itu, meninggalkan masa lalu untuk selamanya. Tapi aku tahu, jauh di lubuk hatiku, kita akan bertemu lagi, di kehidupan yang lain, di waktu yang berbeda, dan kisah kita... mungkin baru akan dimulai saat itu.
You Might Also Like: Agen Kosmetik Bisnis Tanpa Modal Kota
0 Comments: