Aku Menulis Janji di Udara, Tapi Angin Membawanya ke Surga
Angin berdesir di Lembah Bunga Persik, membawa aroma manis yang familiar. Bai Lian, seorang pelukis muda yang baru saja pindah ke desa terpencil itu, berhenti sejenak. Aroma ini… seolah memanggil jiwa yang lama tertidur. Ia menutup mata, mencoba mengingat sesuatu yang hilang, namun hanya ada kabut dan denyutan nyeri di pelipisnya.
Seratus tahun yang lalu, di tempat yang sama, ia – bukan Bai Lian, tapi seorang selir bernama Mei Xiang – berdiri di bawah pohon persik yang sama, menulis janji di selembar kertas sutra. Janjinya pada seorang pangeran, janji cinta yang abadi, meski dosa memisahkan mereka. Janji yang ia terbangkan ke udara, berharap angin membawanya ke pangeran terkasih. Namun, angin berkhianat. Kertas sutra itu terbang terlalu tinggi, terlalu jauh… hingga ke surga.
Bai Lian bertemu dengan seorang pria bernama Zhang Wei. Pria itu misterius, dengan tatapan mata yang menyimpan kesedihan abadi. Suaranya… suaranya membuat Bai Lian merasa seolah pernah mendengarnya dalam mimpi-mimpinya yang paling purba. Zhang Wei, tanpa alasan yang jelas, sangat tertarik pada Bai Lian. Ia tahu tentang bunga persik, tentang lembah ini, tentang… Mei Xiang.
Setiap kali Bai Lian melukis, Zhang Wei selalu ada di dekatnya. Ia sering memberikan petunjuk, saran, bahkan sepotong informasi tentang teknik melukis yang anehnya sangat Bai Lian pahami, padahal ia tidak pernah mempelajarinya secara formal. Mereka berdua merasa terikat oleh benang merah tak kasat mata, benang merah yang ditenun dari masa lalu yang kelam.
Seiring waktu, ingatan Bai Lian mulai kembali. Potongan-potongan masa lalu berkelebat dalam mimpinya: istana megah, intrik politik, ciuman terlarang di bawah rembulan, dan… pengkhianatan. Ia ingat Mei Xiang, selir kesayangan yang dituduh berkhianat dan dihukum mati. Ia ingat Pangeran Li, kekasihnya, yang tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkannya. Ia ingat janji yang ia tulis di udara, janji yang kini berdebu di surga.
Zhang Wei… ia adalah Pangeran Li. Reinkarnasi Pangeran Li. Ia telah mencari Mei Xiang selama seratus tahun, melintasi kehidupan dan kematian, hanya untuk menemukan belahan jiwanya.
Namun, kebenaran yang sebenarnya lebih pahit dari yang mereka bayangkan. Bukan hanya intrik istana yang memisahkan mereka, tapi juga dosa yang lebih besar. Mei Xiang tidak hanya dituduh berkhianat, tapi ia benar-benar berkhianat. Ia mata-mata, yang diutus untuk membunuh Pangeran Li. Ia mencintai pangeran, tapi ia juga terikat janji pada musuh. Ketika ia memutuskan untuk mengakui kejahatannya, ia sudah terlambat.
Bai Lian, sebagai reinkarnasi Mei Xiang, merasakan sakit yang teramat dalam. Ia bukan hanya korban, tapi juga pelaku. Dendam? Marah? Tidak. Ia memilih keheningan. Ia membalas dendam bukan dengan amarah, tapi dengan pengampunan yang menusuk. Ia memaafkan dirinya sendiri, memaafkan Pangeran Li yang telah menderita selama seratus tahun, memaafkan dunia yang penuh dengan intrik dan kebohongan.
Ia kembali melukis. Kali ini, ia melukis Pangeran Li di bawah pohon persik, tersenyum. Ia melukis janji yang terbang ke surga, janji yang akhirnya menemukan kedamaian. Ia melukis… kebebasan.
Zhang Wei menatap lukisan itu dengan tatapan kosong. Ia mengerti. Balas dendam terbaik bukanlah dengan membalas kejahatan, tapi dengan melepaskan masa lalu dan merangkul masa depan.
Bai Lian meninggalkan desa itu, meninggalkan Zhang Wei, meninggalkan semua ingatan masa lalu. Ia pergi, membawa serta keheningan dan pengampunan, menuju takdirnya yang baru.
Di malam yang sunyi, angin kembali berdesir di Lembah Bunga Persik. Zhang Wei berdiri di bawah pohon persik, menatap langit. Ia mendengar bisikan, lirih, seolah datang dari kehidupan sebelumnya: " Sampai jumpa di kehidupan selanjutnya… Janjiku… "
You Might Also Like: Rahasia Dibalik Arti Mimpi Membunuh
0 Comments: