Cinta yang Mengakhiri Segalanya
Embun pagi membasahi kelopak sakura, selembut sentuhan jari Li Mei pada wajah tidur Lin Yi. Udara sejuk menusuk tulang, namun hatinya hangat melihat pria yang dicintainya terlelap. Lima tahun sudah berlalu sejak mereka mengikrarkan janji suci di bawah pohon persik yang sedang mekar. Lima tahun penuh tawa, air mata, dan sebuah rahasia yang membelit jiwanya seperti benang sutra yang mencekik.
Li Mei, pewaris tunggal keluarga Shen yang kaya raya, hidup dalam kebohongan. Ia menyembunyikan identitas aslinya dari Lin Yi, seorang pelukis sederhana dengan jiwa yang tulus. Ia takut, jika kebenaran terungkap, Lin Yi akan meninggalkannya, menganggap cintanya tak lebih dari sandiwara orang kaya yang bosan.
Namun, kebenaran punya cara sendiri untuk mengungkap diri.
Lin Yi, di sisi lain, adalah pria yang haus akan kebenaran. Lukisannya adalah cerminan jiwanya yang jujur. Ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan Li Mei, sebuah kegelapan yang tersembunyi di balik senyum manisnya. Ia mulai menyelidiki, diam-diam, perlahan, seperti air yang mengikis batu karang.
Konflik mulai tumbuh seperti jamur di musim hujan. Kecurigaan menggerogoti kepercayaan. Pertengkaran kecil menjadi badai yang mengancam menghancurkan bahtera cinta mereka. Li Mei semakin tertekan, kebohongannya semakin memburuk, menjebaknya dalam jaring yang ia rajut sendiri.
"Li Mei, kenapa kau selalu menghindar?" tanya Lin Yi suatu malam, matanya menyorot tajam, menembus pertahanannya. "Ada apa yang kau sembunyikan?"
Li Mei terdiam. Malam itu adalah malam di mana segalanya akan berubah.
Akhirnya, kebenaran terungkap. Lin Yi menemukan surat-surat lama, foto-foto yang disembunyikan, bukti yang tak terbantahkan tentang siapa Li Mei sebenarnya. Rasa sakitnya tak terlukiskan. Penghianatan ini lebih dalam dari luka tusuk belati.
"Kau... kau membohongiku?" bisik Lin Yi, suaranya nyaris tak terdengar. Matanya yang biasanya berbinar kini redup, dipenuhi kekecewaan dan amarah.
Li Mei berusaha menjelaskan, memohon ampun, namun terlambat. Kebohongan telah meracuni cinta mereka. Lin Yi tak lagi percaya padanya.
Beberapa bulan kemudian, Li Mei menemukan Lin Yi melukis di tepi sungai. Lukisannya indah, menawan, namun menyimpan kesedihan yang mendalam. Ia mendekat, berlutut di hadapannya.
"Lin Yi, maafkan aku," ucapnya dengan suara bergetar.
Lin Yi menatapnya, tatapannya dingin, tanpa emosi. Ia tersenyum tipis, senyum yang lebih menyakitkan dari tamparan.
"Maaf? Maaf tidak cukup, Li Mei," jawabnya pelan. "Kau menghancurkan segalanya."
Lin Yi menyerahkan sebuah lukisan pada Li Mei. Lukisan itu menggambarkan potret mereka berdua, namun wajah Li Mei dikaburkan, seolah tak pernah ada.
"Ini adalah pengingat," kata Lin Yi, suaranya bagai desiran angin yang dingin. "Pengingat bahwa cinta kita hanyalah ilusi."
Lin Yi bangkit, berbalik, dan berjalan menjauh, meninggalkan Li Mei dengan lukisan itu. Ia tak menoleh sedikit pun.
Balas dendam Lin Yi sangat sederhana, namun efektif. Ia mengambil kembali hatinya, menghapus Li Mei dari hidupnya, seolah wanita itu tak pernah ada. Senyumnya, walau terlihat tenang, adalah senyum perpisahan abadi.
Lin Yi pergi, meninggalkan Li Mei di dunia mewahnya yang sunyi, dengan penyesalan yang akan menghantuinya selamanya.
Apakah kebahagiaan yang dibangun di atas kebohongan akan pernah benar-benar abadi?
You Might Also Like: Distributor Skincare Passive Income
0 Comments: