Hujan menggigil menusuk tulang, sama seperti tatapannya yang terakhir kali. Aku berdiri di puncak Paviliun Mengawang, menatap punggungnya yang semakin menjauh, menyatu dengan kelabu langit. _Lin Weiyang_, nama itu terukir dalam hatiku, abadi seperti luka yang tak kunjung sembuh. Dulu, nama itu adalah janji kebahagiaan, kini, ia adalah mantra pengkhianatan. Dulu, di bawah pohon persik yang bunganya berjatuhan seperti salju di musim semi, ia berjanji akan selalu bersamaku. Dulu, cahaya lentera yang kita bawa bersama, menerangi jalan setapak di pegunungan, seolah menuntun kita menuju masa depan yang cerah. Dulu, ia adalah satu-satunya *cahaya* di tengah kegelapan hidupku. Sekarang? Cahaya lentera itu nyaris padam, hanya menyisakan bayangan yang patah di dinding hatiku. Pengkhianatan. Kata itu terlalu ringan untuk menggambarkan perbuatannya. Ia meninggalkan sekte, membocorkan rahasia *kuno* yang seharusnya kami jaga dengan nyawa. Ia memilih ambisi, memilih kekuasaan, memilih... wanita lain. Orang-orang berbisik tentangku. "Li Yunxi, anak yatim piatu yang ditinggalkan kekasihnya," desis mereka. Mereka mengasihani, mereka meremehkan. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mereka tidak tahu bahwa di balik senyumku yang tenang, amarahku membara seperti api neraka. Aku tidak menangis. Aku tidak meratap. Aku *hanya* menatap punggungnya, dengan bangga... sekaligus hancur. Karena saat itu, aku tahu. Ini bukan perpisahan. Ini adalah awal dari sebuah permainan. Permainan yang hanya bisa dimenangkan oleh satu orang. Selama bertahun-tahun, aku belajar, aku berlatih, aku mengasah diriku menjadi senjata yang mematikan. Aku mempelajari setiap kelemahan sekte, setiap intrik politik, setiap *rahasia* yang disembunyikan di balik senyum manis para tetua. Aku membiarkan mereka meremehkanku, mengira aku hanya seorang wanita yang patah hati. Mereka salah. Setiap tetes hujan yang jatuh, setiap bayangan yang memanjang, setiap cahaya lentera yang berkedip, semuanya mengingatkanku padanya. Dan setiap kali itu terjadi, tekadku semakin menguat. Suatu malam, di tengah badai yang dahsyat, aku berdiri di depan makam palsunya. Lin Weiyang, dia pikir dia bisa menghindariku? Dia pikir dia bisa melupakan masa lalu? Aku tertawa, tawa yang dingin dan tanpa ampun. "Kau salah, Weiyang. Kau sangat *salah*," bisikku pada nisan itu. Kemudian, aku menarik napas dalam-dalam dan mengucapkan kata-kata yang selama ini kupendam. "Tahukah kau, Weiyang? Wanita yang kau pilih itu... *adalah adikku*."
You Might Also Like: Cerpen Seru Ia Menyebutku Dalam Podcast

0 Comments: