Baik, ini dia kisah Dracin pendek dengan judul yang diminta: **Aku Mencium Tangan Mayatmu, Karena Hanya Itu Caraku Berpamitan.** Kabut tipis menggantung di atas Danau Bulan Sabit, persis seperti lukisan tinta usang. Aroma bunga lotus yang memabukkan bercampur dengan bau tanah basah, mengingatkanku pada *dia*. Aku, Lin Yue, berdiri di tepi danau, menatap pantulan wajahku yang terasa asing. Usiaku baru tujuh belas tahun, namun di kedalaman mataku, bersemayam kesedihan yang berabad-abad. Setiap malam, aku bermimpi. Bukan sekadar mimpi biasa, melainkan potongan-potongan memori yang menyakitkan. Istana megah, jubah sutra merah darah, wajah-wajah yang tersenyum licik. Dan *dia*, Kaisar Qing, dengan senyum setenang air, namun mata setajam belati. Dia adalah belahan jiwaku, kekasihku, sekaligus... **algojoku**. Aku, Permaisuri Lian, dituduh berkhianat. Racun di dalam arak yang disuguhkan untuk Ibunda Suri, semuanya diarahkan kepadaku. Pengadilan yang dibuat-buat, saksi palsu, dan tatapan *dingin* dari mata Qing. Sebelum pedang algojo memenggal kepalaku, aku hanya sempat melihat *tangannya*, tangan yang selalu mendekapku, tangan yang kini memberi isyarat agar pedang itu diturunkan. Kemudian, kegelapan. Dan sekarang, aku di sini. Lin Yue, reinkarnasi Permaisuri Lian yang terlupakan. Kemampuan *spiritualku* meningkat setiap hari, menyingkap tabir masa lalu sedikit demi sedikit. Aku tahu, ingatanku akan segera pulih sepenuhnya. Seorang pria mendekat. Wajahnya tampan, namun ada garis kekejaman tersembunyi di sudut bibirnya. Dia adalah Pangeran Rui, putra mahkota yang ambisius. Dia memperkenalkanku kepada sahabatnya, Zhang Wei, seorang jenderal muda berbakat. Saat Zhang Wei tersenyum, jantungku berdebar aneh. Senyum itu... familiar. Perlahan, potongan-potongan puzzle itu menyatu. Pangeran Rui, dengan ambisinya yang membara, dan Zhang Wei, yang selalu berada di sisinya. Mereka berkomplot menjatuhkanku! Racun itu... adalah karya mereka! *Qing*... Qing hanyalah pion yang dimainkan dalam permainan mereka. Dia terlalu mencintaiku hingga dibutakan oleh fitnah. Kini, Pangeran Rui menginginkanku. Dia melihat kekuatan spiritualku, potensi yang bisa dia manfaatkan. Aku pura-pura terpesona olehnya, tersenyum manis, mengangguk patuh. Di balik senyumku, tersimpan rencana yang lebih halus dari racun. Aku akan menggunakan kekuatanku untuk membantu Zhang Wei menjadi kaisar. Aku akan membuatnya berkuasa, lalu aku akan *meninggalkannya*. Membiarkannya hidup dalam penyesalan, menyadari bahwa cinta sejati yang disia-siakannya tergeletak di bawah kakinya, tak bisa lagi diraih. Balas dendam yang paling manis bukanlah kematian, melainkan hidup yang penuh dengan *kerinduan*. Di upacara penobatan Zhang Wei, aku berbisik kepadanya, "Selamat atas kemenanganmu." Kemudian, aku berbalik dan berjalan menjauh, meninggalkan istana untuk selamanya. Aku mencium tangan mayatmu, Qing, karena hanya itu caraku berpamitan. Di kehidupan ini, aku memilih jalan yang berbeda. Aku memilih kebebasan. Aku memilih takdirku sendiri. Dan di kehidupan selanjutnya, ketika bintang-bintang kembali sejajar, mungkin kita akan bertemu lagi... dan kali ini, *takdir* akan berada di pihak kita!
You Might Also Like: D Lo Brown Action Figures 93 Beautiful

0 Comments: