**Air Mata yang Membeku di Balik Tirai** Rinai salju pertama menyentuh pipi Li Wei, membangunkan kenangan yang terkubur dalam. Ia berdiri di teras rumah teh *Huā Méi*, memandang kabut yang menyelimuti Kota Pingyao. Aroma melati dan teh *longjing* gagal mengusir rasa hampa yang mencengkeram hatinya. Entah mengapa, pemandangan ini… familiar. Sangat familiar hingga menyakitkan. Ia adalah pewaris tunggal keluarga Li yang makmur, hidup dalam kemewahan yang sebagian orang hanya bisa impikan. Namun, bayangan masa lalu, yang samar dan fragmentaris, menghantuinya. Pengkhianatan. Darah. Rasa sakit yang tak tertahankan. Suatu malam, dalam mimpi yang terasa sangat nyata, ia melihat dirinya—atau *dirinya di masa lalu*—sebagai Putri Lian, putri kesayangan Kaisar Dinasti Qing. Ia dikelilingi intrik istana, senyum palsu, dan janji-janji kosong. Lalu, ia melihatnya. *Zhang Wei*, jenderal kepercayaannya, pria yang ia cintai dengan segenap jiwa. Dialah yang membuka gerbang istana, membiarkan para pemberontak masuk, dan mengkhianatinya demi kekuasaan. *DIALAH* penyebab kematiannya. Setiap hari, serpihan ingatan itu kian jelas. Ia mengingat suara pedang beradu, teriakan para pengawal, dan tatapan dingin Zhang Wei saat ia menghembuskan nafas terakhir. Dendam membara dalam hatinya, namun bukan dendam yang kasar dan penuh amarah. Ia akan membalas dendam dengan cara yang lebih halus, lebih menyakitkan. Kebetulan (atau mungkin takdir?), ia bertemu dengan seorang pengusaha muda bernama… Zhang Wei. Ia tampan, ambisius, dan memiliki aura kekuasaan yang sama seperti jenderal pengkhianat di kehidupannya dulu. Ia tahu *persis* apa yang harus ia lakukan. Li Wei menggunakan pesonanya, kecerdasannya, dan kekayaan keluarganya untuk menarik Zhang Wei ke dalam jaringnya. Ia membiarkannya jatuh cinta padanya, mempercayainya, dan bergantung padanya. Ia tahu, dalam dunia bisnis modern ini, kekuasaan sesungguhnya terletak pada kendali finansial. Ia perlahan, namun pasti, mengambil alih perusahaan Zhang Wei, menghancurkan reputasinya, dan membuatnya bangkrut. Di malam terakhir mereka bertemu, Zhang Wei berlutut di hadapannya, memohon ampun. Li Wei menatapnya dengan dingin, tanpa sedikit pun emosi. “Kau mengingatnya, bukan? Putri Lian?” bisiknya, suara seraknya nyaris tak terdengar. Zhang Wei menatapnya dengan mata terbelalak, ketakutan dan penyesalan terpancar jelas. Ia tahu. Ia *ingat*. Li Wei tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya. Ia membalikkan badan dan meninggalkan Zhang Wei terpuruk dalam kehancurannya. Ia tidak membunuhnya. Ia tidak menyakitinya secara fisik. Ia hanya *menghancurkan jiwanya*, seperti yang dilakukannya berabad-abad lalu. Ia melihat ke arah salju yang turun semakin lebat. *Akhirnya*, ia bisa merasakan kedamaian. Air mata yang membeku di balik tirai masa lalu mencair, namun bukan berarti semua telah usai. "Kita akan bertemu lagi, Zhang Wei, mungkin di kehidupan selanjutnya... atau kehidupan setelahnya, di mana aku akan memastikan kau *selalu* menderita di bawah kakiku…"
You Might Also Like: Cerpen Terbaru Janji Yang Dikhianati Di

0 Comments: