Baik, inilah kisah pendek bergaya dracin berjudul 'Cinta yang Tak Pernah Sembuh', dengan penekanan seperti yang Anda minta: **Cinta yang Tak Pernah Sembuh** Lantai dansa berpendar, memantulkan cahaya kristal ke gaun sutra *merah delima* milik Lin Mei. Senyumnya merekah sempurna, sebuah topeng yang menutupi badai di dalam hatinya. Di seberang ruangan, dia melihatnya. Zhao Wei, suaminya. Lengannya melingkari pinggang ramping wanita lain, tawanya begitu renyah, sebuah melodi yang menusuk relung jiwanya. Dulu, tawa itu hanya miliknya. Dulu, pelukan Zhao Wei adalah tempat berlindung, bukan *penjara emas* yang mencekiknya. Dulu, janji-janji yang terucap adalah bintang penuntun, kini hanya serpihan kaca yang melukai setiap langkahnya. Lin Mei menyesap sampanye, membiarkan gelembungnya membakar tenggorokannya. Dia ingat malam di bawah langit Shanghai, ketika Zhao Wei berlutut, cincin berlian berkilauan di tangannya. *“Mei, bersediakah kau berbagi sisa hidupmu denganku?”* Suara itu begitu tulus, matanya penuh cinta. Cinta yang kini terasa seperti dusta belaka. Pengkhianatan adalah racun yang menyebar perlahan, melumpuhkan jiwa dari dalam. Lin Mei telah merasakan setiap tetesnya. Sikap Zhao Wei yang semakin dingin, tatapannya yang menghindari, aroma parfum asing yang menempel di kemejanya. Dia tahu, tapi memilih untuk tidak tahu. Berpura-pura bahagia lebih mudah daripada menghadapi kenyataan pahit. Namun malam ini, topeng itu retak. Dia melihat pantulan dirinya di mata Zhao Wei, dan yang dilihatnya hanyalah kekosongan. Dia bukan lagi wanitanya, bukan lagi belahan jiwanya. Dia hanya sebuah *investasi*, sebuah aset yang perlu dijaga reputasinya. Lin Mei menarik napas dalam-dalam. Dia tahu apa yang harus dilakukan. Bukan adu argumen yang memalukan, bukan air mata yang sia-sia. Dia akan membalas dengan cara yang lebih halus, lebih mematikan. Beberapa bulan kemudian, Zhao Wei kehilangan segalanya. Bisnisnya bangkrut, reputasinya hancur berkeping-keping. Rahasia gelapnya, yang selama ini disembunyikannya rapat-rapat, terkuak ke publik. Dia ditinggalkan sendirian, tanpa uang, tanpa teman, tanpa cinta. Lin Mei berdiri di balkon apartemennya, memandang kota yang gemerlap. Dia tahu, semua ini adalah ulahnya. Sentuhan dinginnya, bisikan halusnya, langkah-langkahnya yang terencana dengan cermat. Dia telah menghancurkan Zhao Wei, bukan dengan kekerasan, tapi dengan *penyesalan abadi*. Dia tidak merasa bahagia. Tidak ada kemenangan di sana. Hanya kehampaan yang lebih dalam. Dia telah membunuh cinta di dalam dirinya, dan membangkitkan iblis balas dendam. Senyumnya tipis, nyaris tak terlihat. Dia tahu, dia tidak akan pernah bisa melupakan Zhao Wei. Dia tidak akan pernah bisa menyembuhkan luka ini. Luka yang akan terus menganga, mengingatkannya pada pengkhianatan dan kehancuran. Cinta dan dendam lahir dari tempat yang sama... bukan?
You Might Also Like: 0895403292432 Reseller Kosmetik Bisnis

0 Comments: