Baiklah, ini dia kisah dracin pendek berjudul 'Aku Melangkah Menjauh, Tapi Bayanganmu Selalu Lebih Cepat' dengan elemen yang Anda minta: *** **Aku Melangkah Menjauh, Tapi Bayanganmu Selalu Lebih Cepat** Lorong Istana Langit Biru itu sunyi, lebih sunyi dari kematian itu sendiri. Lentera-lentera kristal tergantung rendah, cahayanya menari di lantai marmer, menciptakan ilusi bayangan yang memanjang dan memendek seiring langkah kaki *ku*. Sudah sepuluh tahun. Sepuluh tahun sejak aku dinyatakan hilang di Pegunungan Seribu Kabut. Sepuluh tahun sejak aku dicap pengkhianat. Sepuluh tahun sejak aku mati di mata mereka. Kabut masih sama tebalnya seperti dulu. Bahkan harum bunga plum yang dulu kurindukan, kini terasa seperti pengingat pahit. Aku kembali, bukan untuk memohon ampun, tapi untuk mencari jawaban. Jawaban atas semua pertanyaan yang *TAK PERNAH* diutarakan. Di ujung lorong, sosok itu berdiri. Kakakku, Pangeran Wei. Wajahnya semakin tirus, sorot matanya kehilangan kehangatan. Jubahnya berwarna safir, bersulam naga emas yang seolah mengawasi setiap gerak-gerikku. “Kau kembali, Xiao Lan,” desisnya, suaranya serak seperti gesekan batu. “Aku kembali, *Gege*,” jawabku, membungkuk sedikit. Formalitas yang konyol, mengingat masa lalu kami. “Mencari jawaban.” Dia terkekeh, suara hampa tanpa humor. “Jawaban? Apa yang kau harapkan? Kami *berduka* selama bertahun-tahun.” “Bukan duka yang kulihat, *Gege*. Tapi ketakutan. Ketakutan bahwa aku akan mengungkap kebenaran.” Pangeran Wei melangkah mendekat. Cahaya lentera memantulkan dingin di matanya. "Kebenaran apa? Kau pengkhianat. Kau bersekongkol dengan suku barbar!" Aku tersenyum tipis. “Benarkah? Atau kau yang *mengirimku* ke sana, agar aku menjadi kambing hitam sempurna untuk rencanamu merebut tahta?” Hening. Sunyi yang memekakkan telinga. Hanya suara angin yang menyusup dari celah jendela, mengipasi jubahnya. "Kau... gila." "Mungkin. Tapi kegilaanku adalah akibat dari *KEBOHONGANMU*. Aku tahu tentang surat palsu itu, tentang pertemuan rahasiamu dengan Jenderal Gao. Aku tahu segalanya, *Gege*." Dia menarik napas dalam-dalam. “Sudah terlambat. Aku adalah Kaisar sekarang. Tidak ada yang akan mempercayaimu.” "Kau salah. Bukti itu ada di Pegunungan Seribu Kabut. Tersembunyi, menunggu untuk ditemukan." Pangeran Wei tertawa, kali ini lebih keras dan lebih menyeramkan. “Kau naif, Xiao Lan. Kau selalu naif. Apakah kau benar-benar berpikir aku akan membiarkanmu hidup selama ini? Aku yang *menyelamatkanmu*, Xiao Lan. Aku yang membuatmu *menghilang* untuk sementara waktu, agar aku bisa menjalankan rencanaku. Aku yang memberikanmu identitas baru, kehidupan baru… semua sesuai dengan *RENCANAKU*.” Dia mendekat, bisikannya bagai racun yang menggerogoti jiwaku. “Kau adalah boneka, Xiao Lan. Boneka yang ku mainkan untuk mencapai tujuanku. Dan sekarang... kau akan memainkan peran terakhirmu." Aku menatapnya, *KEBENARAN* menghantamku seperti badai. Selama ini, aku bukan korban. Aku hanyalah pion dalam permainannya. Boneka yang dia kendalikan sejak awal. Kaisar Wei tersenyum dingin. "Kau tahu, Xiao Lan? Bayanganmu memang cepat, tapi bayangan *KU* jauh lebih cepat." *** Dan itulah kenapa...Aku tidak pernah benar-benar melangkah menjauh.
You Might Also Like: 65 Parcel Contract Negotiations For

0 Comments: