**Kau Berkata Cinta Ini Kutukan, Tapi Aku Memeluknya Seolah Anugerah** Hujan abu menyelimuti Kota Terlarang, senada dengan abu yang mengenda...

Cerpen Seru: Kau Berkata Cinta Ini Kutukan, Tapi Aku Memeluknya Seolah Anugerah Cerpen Seru: Kau Berkata Cinta Ini Kutukan, Tapi Aku Memeluknya Seolah Anugerah

Cerpen Seru: Kau Berkata Cinta Ini Kutukan, Tapi Aku Memeluknya Seolah Anugerah

Cerpen Seru: Kau Berkata Cinta Ini Kutukan, Tapi Aku Memeluknya Seolah Anugerah

**Kau Berkata Cinta Ini Kutukan, Tapi Aku Memeluknya Seolah Anugerah** Hujan abu menyelimuti Kota Terlarang, senada dengan abu yang mengendap di hatiku. Dulu, tawa kita menggema di antara paviliun megah ini, Janji kita terukir di setiap pilar marmer. *Dulu*. Sekarang, hanya sunyi yang menjawabku. Kau berdiri di balkon Istana Timur, siluetmu remang diterpa cahaya redup lentera. Jubah naga keemasan yang dulu ku kagumi, kini terasa seperti rantai yang mengikatmu pada takdir. *Takdir* yang telah mencuri senyummu, mencuri dirimu dari sisiku. "Xiao Lian," bisikku, suara serak tertelan angin. Kau tidak menoleh. Lima tahun. Lima tahun berlalu sejak kau merebut takhta, lima tahun sejak kau menikahi putri kerajaan tetangga demi aliansi politik. Lima tahun sejak kau mengucapkan kata-kata yang menghancurkan jiwaku: "Cinta ini… adalah *kutukan*, Xiao Lian. Untuk kita berdua." Kutukan katamu? Aku memeluknya seolah anugerah. Aku menjaganya dalam diam, dalam pengasingan di paviliun kecil di ujung istana. Setiap malam, aku menatap bintang-bintang, berharap satu saja di antaranya akan menyampaikan rinduku padamu. Bodohnya aku. Kau berbalik, tatapanmu kosong, tanpa sisa kehangatan yang dulu membuat jantungku berdebar. "Kau… seharusnya tidak di sini," ucapmu dingin, sedingin pedang yang menusuk jantungku. "Aku hanya ingin tahu… apakah kau bahagia?" Suaraku bergetar, menahan air mata yang mendesak keluar. Kau terdiam, rahangmu mengeras. "Kebahagiaan adalah kemewahan yang tidak bisa ku miliki, Xiao Lian." Kata-katamu adalah cambuk yang menyayat kulitku. Aku tahu. Aku selalu tahu. Takhta itu memakanmu hidup-hidup. Kau mendekat, mengulurkan tangan. Untuk sesaat, aku berharap. Berharap kau akan menarikku ke dalam pelukanmu, mengatakan semua ini hanyalah mimpi buruk. Tapi tanganmu berhenti beberapa inci dari wajahku. "Pergilah. Sebelum mereka melihatmu." Aku tersenyum pahit. *Mereka*. Penasihatmu. Selir-selirmu. Istrimu. Istana ini adalah labirin kebencian dan pengkhianatan. Aku tahu. Aku selalu tahu. Aku berbalik, melangkah menjauh. Di ambang pintu, aku berhenti. "Aku tidak menyesalinya," ucapku lantang, menantang takdir, menantang *dirimu*. "Aku tidak menyesali setiap detik yang ku habiskan mencintaimu. Meskipun itu adalah kutukan." Kau tidak menjawab. Hujan abu semakin deras. Aku berjalan menembus kegelapan, meninggalkan istana, meninggalkanmu. Meninggalkan hatiku. Beberapa bulan kemudian, aku mendengar kabar tentang kematianmu. Penyakit misterius. *Misterius sekali.* Putri kerajaan tetangga yang beracun, perlahan dan pasti, hingga kau menyerah pada kematian yang menyakitkan. Beberapa orang berbisik tentang kutukan. Aku hanya tersenyum tipis. Keadilan memang lambat, tapi takdir memiliki cara sendiri untuk menyeimbangkan neraca. Mungkin, cinta ini memang kutukan… atau mungkin, itu adalah benih balas dendam yang ditanam dalam diam, tumbuh subur di tanah yang penuh air mata, dan mekar dengan keadilan yang *PEDIH*.
You Might Also Like: Rahasia Dibalik Arti Mimpi Digigit

0 Comments: