Baik, ini dia kisah modern dracin berjudul 'Cinta yang Takut Terungkap': **Cinta yang Takut Terungkap** Hujan kota selalu membawa ar...

Ini Baru Drama! Cinta Yang Takut Terungkap Ini Baru Drama! Cinta Yang Takut Terungkap

Ini Baru Drama! Cinta Yang Takut Terungkap

Ini Baru Drama! Cinta Yang Takut Terungkap

Baik, ini dia kisah modern dracin berjudul 'Cinta yang Takut Terungkap': **Cinta yang Takut Terungkap** Hujan kota selalu membawa aroma kopi yang pahit dan sisa chat yang tak terkirim. Di tengah gemerlap notifikasi dan mimpi yang kadang terasa lebih nyata dari kenyataan, cinta itu tumbuh. Cinta yang takut terungkap. Awalnya hanya sapaan ringan di kolom komentar, lalu bertukar pesan tengah malam yang *penuh emoji* dan canda tawa. Aku mengenalnya dari pantulan cahaya layar ponsel, dari setiap lagu yang dia bagikan, dari setiap cerita yang dia tinggalkan di *story*-nya. Dia hadir sebagai _avatar_ yang menyegarkan, _username_ yang selalu kutunggu kehadirannya. Namun, di balik semua itu, ada jurang yang tak terlihat. Jurang **KETAKUTAN**. Setiap kali jemariku menari di atas keyboard, menyusun kalimat yang nyaris mengungkapkan isi hatiku, jemariku membeku. Setiap kali ingin menelponnya di tengah malam yang sunyi, suaraku tercekat. Dia juga begitu. Kami berdua sama-sama *terjebak* dalam labirin **'mungkin'**. Mungkin dia merasakan hal yang sama. Mungkin aku hanya salah menafsirkan. Mungkin... semua ini hanya ilusi. Waktu berlalu. Aroma kopi semakin pekat, hujan kota semakin deras, dan sisa chat yang tak terkirim semakin menumpuk. Ada *kenangan* yang mencoba dihapus, namun justru semakin membekas. Suatu malam, dia menghilang. Notifikasinya *lenyap*. Profilnya sepi. Aku hanya menemukan jejaknya di dalam *memory card* yang penuh dengan foto-foto kita – foto-foto yang diambil secara sembunyi-sembunyi, foto-foto yang tidak pernah berani kami unggah. Perasaan kehilangan itu samar, namun menggerogoti. Seperti racun yang menyebar perlahan, namun mematikan. Ada *misteri* dalam hubungan yang belum selesai ini, ada teka-teki yang tak terpecahkan. Lalu, suatu hari, aku menemukan *rahasia* itu. Sebuah akun *anonymous* yang menyebarkan _rumor_ tentangku, akun yang selalu berusaha menjatuhkanku, akun yang ternyata... miliknya. *Dunia runtuh seketika*. Semua tawa, semua cerita, semua emoji, semua... palsu? Aku merasa dikhianati, dihancurkan, *dilumatkan*. Namun, amarahku tidak meledak menjadi teriakan histeris. Aku tidak membalas dendam dengan cacian atau umpatan. Aku memilih *balas dendam lembut*. Aku mengirimkan pesan terakhir. Pesan yang tidak akan pernah dia duga. Pesan itu hanya berisi satu kata: “**Terima kasih**.” Kemudian, aku memblokirnya. Aku menghapus semua jejaknya dari *galeri ponsel*. Aku mengganti *wallpaper* dengan foto pemandangan senja yang tenang. Aku membuang semua sisa kopi yang terasa pahit. Aku berjalan menjauh, meninggalkan semua kenangan yang tak bisa dihapus. Aku tersenyum. Senyum terakhir. Senyum yang tidak dia lihat. Senyum yang menyiratkan keputusan: *untuk menutup segalanya tanpa kata*. Aku menarik napas dalam-dalam, menghirup aroma hujan kota yang kini terasa sedikit lebih ringan. Mungkin, di suatu tempat, dia akan menyesal. Mungkin tidak. Yang jelas, aku sudah bebas. Dan kebebasan itu… *hambar*.
You Might Also Like: 7 Fakta Mimpi Dikejar Burung Pipit

0 Comments: