**Bayangan yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi** Hujan. Senandungnya lirih, menari di atas nisan yang dingin. Setiap tetes adalah air mata yang tak sempat jatuh, janji yang tak sempat terucap. Di bawah rintik yang abadi itu, Lin Wei berdiri. Bukan berdiri dalam artian sebenarnya, lebih tepatnya…melayang. Dia adalah bayangan. Sisa dari kehidupan yang direnggut paksa, sebuah echo dari suara yang terbungkam. Dulu, tawanya memenuhi rumah bambu di lereng gunung. Kini, yang tersisa hanyalah hembusan dingin yang menusuk tulang. Dia kembali, bukan karena amarah membara, bukan karena dendam meracuni jiwa. Ia kembali karena sebuah _kebohongan_ terukir di batu nisan hatinya. Sebuah dusta yang mengikatnya pada dunia fana ini. Rumahnya, dulu tempatnya bernyanyi dan menari, kini tampak sunyi dan berdebu. Sentuhan tangan gaibnya menyapu debu dari pigura foto. Foto itu...foto dirinya bersama Chen Yi, kekasihnya. Foto yang selalu membuatnya tersenyum dulu, kini hanya menyisakan perih yang menyesakkan. Chen Yi…nama itu seperti mantra yang memanggilnya kembali. *Dulu,* ia ingat, Chen Yi berjanji akan melindunginya, menjaganya dari segala marabahaya. Tapi, saat malam kelam itu datang, saat pedang menghunus jantungnya…Chen Yi tidak ada di sana. Gosip dan bisikan mencapai telinganya. Chen Yi dituduh berkhianat. Dituduh menjualnya demi kekuasaan. _KEKUASAAN!_ Kata itu bergaung dalam kehampaan jiwanya. Tidak mungkin. Chen Yi tidak mungkin melakukan itu. Setiap malam, Lin Wei mengembara di desa, menembus dinding dan pintu, mencari petunjuk. Ia mendengar percakapan, menyaksikan pertemuan rahasia, merasakan ketakutan dan kecemasan orang-orang. Bayangan masa lalu berkelebat, potongan-potongan puzzle bertebaran. Hingga akhirnya, ia menemukan sebuah surat. Disembunyikan di bawah lantai papan usang. Surat itu ditulis oleh…ayahnya sendiri. Ayahnya, seorang pedagang kaya raya, terlibat hutang judi yang sangat besar. Ayahnya, yang **MENJUALNYA** kepada seorang pejabat korup sebagai jaminan hutang. Air mata—atau apapun yang menyerupainya—mengalir di pipi Lin Wei. Kebohongan itu akhirnya terkuak. Chen Yi tidak bersalah. Chen Yi bahkan mencoba menyelamatkannya, namun terlambat. Lin Wei menemukan Chen Yi di kuil tua, duduk bersimpuh di depan abu hio yang mengepul. Punggungnya bergetar. Ia mendekat, menyentuh bahu Chen Yi dengan tangan gaibnya. Chen Yi mendongak, tatapannya kosong. Ia bisa merasakan kesedihan yang mendalam, penyesalan yang tak terhingga. Lin Wei tidak mengucapkan sepatah kata pun. Tak perlu. Ia hanya ingin Chen Yi tahu, ia tidak menyalahkannya. Ia ingin Chen Yi tahu, ia mencintainya. Dengan sekuat tenaga, Lin Wei mengirimkan *perasaan* itu. Kedamaian. Pemaafan. Cinta. Perlahan, senyum tipis tersungging di bibir Chen Yi. Seperti beban berat terangkat dari pundaknya. Lin Wei merasakan sesuatu berubah. Ikatan yang mengikatnya pada dunia ini mulai melemah. Tugasnya selesai. Kebenaran terungkap. Ia bisa pergi sekarang. Bayangan Lin Wei memudar. Hujan berhenti. Matahari mulai menyinari makam yang dingin. Di kuil tua, Chen Yi berdiri. Menatap langit yang mulai cerah. “…akhirnya aku tahu yang sebenarnya…” gumamnya, dengan senyum yang baru pertama kali ia sunggingkan dalam beberapa tahun terakhir, “…dan kini, dia akan mendapatkan kedamaian…”
You Might Also Like: 174 Cara Sabun Muka Lokal Tanpa Pewarna

0 Comments: