**Air Mata di Ujung Pedang Kekasih** Lorong Istana Yan bagai mulut naga yang menganga, ditelan kegelapan malam tanpa bintang. Obor-obor kuno berkedip lemah, menari-nari seolah membisikkan rahasia yang lebih baik disimpan rapat. Angin dingin menyusup melalui celah batu, membawa aroma *kematian* dan *kenangan* yang sama-sama pahitnya. Lima belas tahun lamanya, Lin Wei, *sang Pangeran yang Hilang*, dianggap telah gugur di medan perang, mengorbankan dirinya demi melindungi tahta sang kakak, Kaisar Zhao. Namun malam ini, di lorong sunyi ini, ia berdiri. Wajahnya tirus, terukir pahit oleh waktu dan *rahasia*. Matanya, dulu penuh tawa, kini hanya memancarkan gurat kesedihan yang dalam. Di tangannya tergenggam erat pedang pusaka, *Bulan Sabit*, yang memantulkan cahaya obor dengan tatapan membunuh. Kaisar Zhao, dengan jubah keemasan yang berat, menunggunya di ujung lorong. Wajahnya, yang dulu tampan dan gagah, kini dipenuhi kerutan kecemasan. "Wei... adikku," bisiknya, suaranya bergetar. "Kau... kau kembali." Lin Wei tersenyum tipis, senyum yang tak sampai ke matanya. "Kembali untuk menagih janji yang belum ditepati, Kakanda." "Janji apa?" Zhao mengerutkan kening, mencoba menyembunyikan ketakutannya. "Janji melindungi rakyat. Janji menegakkan keadilan. Janji... untuk tidak menikahi Hua Mei, wanita yang kucintai." Suara Lin Wei bagai belati es, menusuk jantung Zhao. Zhao terdiam, matanya membulat. "Kau... kau tahu?" "Aku tahu segalanya, Kakanda. Tentang bagaimana kau mengirimku ke medan perang dengan pasukan yang tidak memadai. Tentang bagaimana kau berbohong pada rakyat, mengatakan bahwa aku gugur sebagai pahlawan. Dan tentang bagaimana kau menikahi Hua Mei, setelah dia berjanji padaku untuk menungguku." Lin Wei melangkah maju, pedangnya terangkat. "Kau merebut segalanya dariku, Kakanda. Kehormatan, cinta, dan bahkan... kehidupanku." Zhao mundur, tersudut di dinding batu. "Dengarkan aku, Wei! Aku melakukan semua ini demi kerajaan! Demi kestabilan!" "Kestabilan? Atau demi kekuasaanmu sendiri?" Lin Wei menyeringai. "Kau selalu menginginkan apa yang kumiliki, bukan begitu, Kakanda? Bahkan sebelum aku lahir, kau sudah merencanakan semua ini." Zhao terisak, air mata mengalir di pipinya. "Aku... aku menyesal, Wei. Aku mohon ampun!" Lin Wei terdiam sejenak, menatap Kaisarnya dengan pandangan *DINGIN*. Lalu, ia menurunkan pedangnya. "Penyesalanmu tidak ada artinya, Kakanda. Kau pikir aku kembali untuk membalas dendam? Kau salah." Lin Wei berbalik, meninggalkan Zhao yang terisak di lorong yang semakin gelap. "AKU KEMBALI UNTUK MEMASTIKAN, BAHWA KAU AKAN TERUS MENDERITA DALAM PENYESALANMU, SELAMANYA." Langkah Lin Wei lenyap ditelan kegelapan. Kebenaran yang tersembunyi akhirnya terungkap: bukan Zhao yang memegang kendali, melainkan Lin Wei. _Permainan baru saja dimulai, dan Zhao hanya pion di dalamnya._ Dan tatapan Lin Wei, ketika berbalik, adalah tatapan seseorang yang _selalu_ memiliki rencana.
You Might Also Like: 0895403292432 Agen Kosmetik Bimbingan

0 Comments: