## Bayangan di Balik Lentera yang Padam Hujan menggigil di atap istana, setiap tetesnya memantulkan cahaya lentera yang remang-remang. Lente...

Ini Baru Cerita! Kaisar Itu Menangis, Tapi Air Matanya Bukan Untuk Rakyat. Ini Baru Cerita! Kaisar Itu Menangis, Tapi Air Matanya Bukan Untuk Rakyat.

Ini Baru Cerita! Kaisar Itu Menangis, Tapi Air Matanya Bukan Untuk Rakyat.

Ini Baru Cerita! Kaisar Itu Menangis, Tapi Air Matanya Bukan Untuk Rakyat.

## Bayangan di Balik Lentera yang Padam Hujan menggigil di atap istana, setiap tetesnya memantulkan cahaya lentera yang remang-remang. Lentera itu, seperti hati **Zhu Lin**, Kaisar Agung yang selama ini berkuasa, nyaris padam. Lima belas tahun sudah berlalu sejak malam berdarah itu, malam ketika *dia*—Li Yue—mengkhianatinya. Zhu Lin berdiri di balkon kamarnya, jubah naga keemasannya basah kuyup. Pandangannya tertuju pada taman istana yang gelap, di mana dulu, di bawah pohon sakura yang kini kering kerontang, mereka berjanji akan saling mencintai sampai akhir hayat. “Yue…” bisiknya, suara seraknya tertelan gemuruh hujan. Bayangan masa lalu menari-nari di pelupuk matanya. Wajah Li Yue yang dulu penuh tawa, mata jernihnya yang selalu menatapnya dengan penuh kasih sayang. Lalu, bayangan itu berubah. Menjadi wajah Li Yue yang dingin, menggenggam pedang berlumuran darah, berdiri di sisi pemberontak. Pengkhianatan itu meremukkan hatinya. Bukan tahta yang ia sesalkan, bukan pula kekuasaan yang direnggut. Tapi cinta. *Cinta yang dibuang, dihancurkan, diinjak-injak*. Setiap kali Zhu Lin melihat rakyatnya menderita karena kebijakan yang ia buat, dadanya terasa semakin sesak. Ia tahu, ia bukanlah kaisar yang baik. Ia memerintah dengan tangan besi, membungkam setiap suara penentang, dan memperkaya diri sendiri. Ia melihat kekacauan, kelaparan, dan kematian di mana-mana. Dan ia menangis. Tapi air matanya *BUKAN* untuk rakyat. Air matanya untuk Li Yue. Untuk cinta yang hilang. Untuk rasa sakit yang tak pernah sembuh. Berita tentang keberadaan Li Yue di perbatasan akhirnya sampai padanya. Jantungnya berdegup kencang. Kebencian, dendam, dan—ya, bahkan cinta—bercampur aduk menjadi satu. Ia mengirimkan pasukan untuk menangkapnya, bukan untuk menghukumnya. Melainkan untuk… bertemu. Sekali lagi. Ketika Li Yue akhirnya dibawa menghadapnya, Zhu Lin nyaris tidak mengenalinya. Wajahnya penuh luka, tubuhnya kurus dan lemah. Tapi matanya, mata itu masih memiliki tatapan tajam yang dulu pernah membuatnya tergila-gila. “Lin…” bisik Li Yue, suaranya serak. Zhu Lin mendekat, menyentuh pipi Li Yue yang kasar dengan tangannya. “Kenapa?” tanyanya, suaranya bergetar. “Kenapa kau mengkhianatiku?” Li Yue tersenyum pahit. “Kau tidak akan mengerti.” Zhu Lin tertawa hampa. “Aku? Tidak mengerti? Aku kehilangan segalanya karena kau! Cintaku, kepercayaanku, bahkan jiwaku!” Li Yue menatapnya lekat. “Dan kau pikir aku tidak kehilangan apa-apa?” Malam itu, Zhu Lin mengetahui kebenaran yang selama ini disembunyikan. Bahwa Li Yue tidak pernah berkhianat. Bahwa ia hanya berpura-pura, mengikuti perintah rahasia yang… **… berasal dari kaisar sebelumnya, ayahanda Zhu Lin sendiri, untuk menguji kesetiaan putranya.**
You Might Also Like: Supplier Kosmetik Tangan Pertama Bisnis

0 Comments: