Di antara kabut Lembah Bunga Persik yang abadi, di sanalah kisah ini bersemi. Bukan di dunia nyata, namun di lukisan gulungan tua yang men...

Cerpen: Cinta Yang Tak Pernah Lenyap Cerpen: Cinta Yang Tak Pernah Lenyap

Cerpen: Cinta Yang Tak Pernah Lenyap

Cerpen: Cinta Yang Tak Pernah Lenyap

Di antara kabut Lembah Bunga Persik yang abadi, di sanalah kisah ini bersemi. Bukan di dunia nyata, namun di lukisan gulungan tua yang menyimpan rahasia hati yang merindu. Di sana, aku melihatnya pertama kali: Nona Mei Lan, dengan gaun sutra seputih salju yang menari mengikuti angin yang tak terdengar.

Rambutnya bagaikan air terjun malam, matanya danau obsidian yang memantulkan bintang-bintang abadi. Setiap goresan kuas di kanvas itu seolah menorehkan janjiku: untuk mencintainya, selamanya, di alam mimpi ini.

Setiap malam, ketika rembulan menyinari kamarku, aku terlelap dan terbang menuju Lembah Bunga Persik. Di sana, kami bertemu. Di sana, kami berbagi rahasia. Sentuhannya selembut kelopak bunga, suaranya melodi sungai yang menenangkan jiwa. Kami berjalan di bawah pohon persik yang bunganya tak pernah layu, membicarakan bintang-bintang yang tak pernah padam, dan hati kami yang saling terpaut.

Namun, mimpi hanyalah mimpi. Setiap pagi, aku terbangun dengan air mata di pipi, merindukan aroma Mei Lan yang tak bisa kuraih. Gulungan lukisan itu tetap di dinding, membisu, menyimpan senyumnya yang abadi namun tak tersentuh.

Aku mencari cara untuk menembus batas antara dunia nyata dan dunia mimpi. Mencari mantra kuno, ramuan ajaib, bahkan jalan sesat menuju alam baka. Semua kulakukan demi Mei Lan, demi cinta yang tak mungkin.

Suatu malam, di puncak kuil yang ditinggalkan, di bawah rembulan purnama berdarah, aku menemukan jawabannya. Sebuah cermin berkabut, terukir dengan simbol-simbol terlarang. Konon, cermin itu bisa membuka gerbang menuju dimensi lain.

Dengan gemetar, aku melangkah. Dunia berputar, cahaya membutakan, dan kemudian... aku berada di Lembah Bunga Persik. NYATA. Mei Lan menungguku di bawah pohon persik yang berbunga. Senyumnya merekah, lebih indah dari yang pernah kulihat.

Dia berlari ke arahku, memelukku erat. "Akhirnya kau datang," bisiknya.

Namun, ketika dia menatap mataku, aku melihat sesuatu yang mengerikan. Bukan cinta, bukan rindu, melainkan... PENYESALAN.

Kemudian, dia berbicara, "Aku tidak nyata. Aku hanyalah bayangan dari penyesalanmu. Aku adalah Mei Lan yang kau tinggalkan di kehidupan lampau. Cermin ini hanya membiarkanmu melihat apa yang paling kau sesali: cinta yang tidak kau perjuangkan."

Duniaku runtuh. Mimpiku hancur. Cinta yang selama ini kurindukan, hanyalah hantu masa lalu, cermin dari kegagalanku sendiri. Keindahan Lembah Bunga Persik berubah menjadi padang gurun yang gersang, senyum Mei Lan menjadi tawa hantu yang menghantui.

Aku kembali ke dunia nyata, hancur. Gulungan lukisan itu kini tampak mengerikan, mengingatkanku akan kebodohanku, penyesalanku, dan cinta yang TAK AKAN PERNAH menjadi milikku.

Di balik lukisan itu, aku menemukan sebuah ukiran kecil: nama seorang wanita, Mei Lan, dan tanggal… tanggal kematiannya. Dia benar-benar ada. Dia mati karena menungguku, di kehidupan lampau yang terlupakan.

Apakah ini hukuman abadi? Apakah aku akan selamanya terjebak dalam lingkaran penyesalan?

Angin berbisik, "Cinta sejati... tidak pernah mati, bukan?"

You Might Also Like: Master Chemical Concepts Ace Chapter 5

0 Comments: