Oke, ini dia kisah dracin pendek yang Anda minta: **Judul:** Aku Membeli Restoran Tempatmu Bekerja Lorong-lorong restoran itu remang. Bukan ...

Absurd tapi Seru: Aku Membeli Restoran Tempatmu Bekerja, Padahal Hanya Ingin Melihatmu Tiap Pagi Absurd tapi Seru: Aku Membeli Restoran Tempatmu Bekerja, Padahal Hanya Ingin Melihatmu Tiap Pagi

Absurd tapi Seru: Aku Membeli Restoran Tempatmu Bekerja, Padahal Hanya Ingin Melihatmu Tiap Pagi

Absurd tapi Seru: Aku Membeli Restoran Tempatmu Bekerja, Padahal Hanya Ingin Melihatmu Tiap Pagi

Oke, ini dia kisah dracin pendek yang Anda minta: **Judul:** Aku Membeli Restoran Tempatmu Bekerja Lorong-lorong restoran itu remang. Bukan remang lampu, tapi remang kenangan yang berdebu. Aroma *rou jia mo* yang seharusnya menggugah selera, justru terasa hambar di lidahku. Lima tahun. Lima tahun aku menghilang, dianggap mati tertimbun reruntuhan tambang. Lima tahun aku merencanakan ini. Dia ada di sana, di balik etalase kaca, tangannya lincah membungkus pangsit. Wajahnya sedikit menirus, tapi matanya... mata itu masih sama. Mata yang dulu memancarkan cinta padaku, sekarang hanya memancarkan lelah. Aku mendekat, memesan semangkuk mi tarik. Dia mendongak. Raut wajahnya tetap datar. "Itu saja?" tanyanya, suaranya serak. "Ya. Dan... bisakah kau memberitahuku, apa yang terjadi lima tahun lalu?" Dia terdiam. Tangannya berhenti bergerak. Kabut pagi yang menyelimuti *distrik keuangan* kota seakan ikut masuk ke dalam restoran, membungkus kami dalam keheningan yang menyesakkan. "Tidak ada yang perlu diceritakan," jawabnya, dingin. "Kau pergi. Kami semua melanjutkan hidup." "Melanjutkan hidup? Atau menyembunyikan kebenaran?" Aku menyeringai. "Kau tahu, kan, apa yang kulakukan setelah keluar dari tambang? Aku mencari tahu. Segalanya." Dia akhirnya menatapku, sorot matanya tajam seperti belati. "Kau salah paham." "Salah paham? Aku menemukan rekening gelap, transfer dana besar sebelum tambang itu runtuh. Dan nama pengirimnya..." Aku sengaja menggantung kalimatku, menatapnya lekat-lekat. "...nama pengirimnya adalah *DIRIMU*." Suara denting sendok jatuh ke lantai memecah keheningan. Dia tidak terkejut. Justru, senyum sinis mengembang di bibirnya. "Kau pikir, aku hanya gadis lugu yang kau tinggalkan? Kau salah, sayang." "Jadi, kau..." "Ya. Aku yang mengatur semuanya. Aku yang membuat tambang itu runtuh. Aku yang memastikan kau *hilang*." Dia mendekat, berbisik, suaranya seperti desisan ular. "Kau tahu, betapa membosankannya menjadi bonekamu? Aku bosan dengan cintamu yang mengekang. Aku ingin *bebas*." "Tapi... kenapa? Aku mencintaimu." Dia tertawa, tawa tanpa emosi. "Cinta? Itu hanya alat. Alat untuk mendapatkan apa yang kuinginkan." Aku menatapnya, tercengang. Gadis yang kukenal, gadis yang kucintai, telah berubah menjadi monster. "Aku membeli restoran ini, karena aku ingin melihatmu setiap pagi," kataku, pelan. Dia tertawa lagi. "Kau naif sekali. Kau pikir, aku tidak tahu rencanamu? Kau pikir, aku tidak menyiapkan *kontra*?" Dia meraih pisau dapur dari mejanya. Matanya berkilat. "Kau sudah terlalu lama bermain-main. Sekarang, waktunya *berakhir*." Aku terdiam. Semua terasa berputar. *Aku* yang selama ini merasa menjadi korban, ternyata hanyalah pion dalam permainannya. *** "Kau tahu," bisiknya, tepat sebelum kegelapan menelanku, "Kisah cinta kita memang indah... tapi aku selalu lebih menyukai **TRAGEDI**."
You Might Also Like: Manfaat Sunscreen Lokal Dengan Tekstur

0 Comments: