Baik, ini dia kisah dracin pendek yang Anda inginkan: **Aku Mencintaimu Cukup untuk Tidak Memelukmu Lagi** Lorong Istana Timur, yang dulu di...

Ini Baru Cerita! Aku Mencintaimu Cukup Untuk Tidak Memelukmu Lagi Ini Baru Cerita! Aku Mencintaimu Cukup Untuk Tidak Memelukmu Lagi

Ini Baru Cerita! Aku Mencintaimu Cukup Untuk Tidak Memelukmu Lagi

Ini Baru Cerita! Aku Mencintaimu Cukup Untuk Tidak Memelukmu Lagi

Baik, ini dia kisah dracin pendek yang Anda inginkan: **Aku Mencintaimu Cukup untuk Tidak Memelukmu Lagi** Lorong Istana Timur, yang dulu dipenuhi tawa renyah Putri Lian, kini hanya dihuni bisikan angin. Kabut tebal menyelimuti Pegunungan Giok di kejauhan, menyimpan rahasia yang lebih gelap dari malam tanpa bintang. Di sinilah, di balik gerbang berukir naga yang berkarat, Lian kembali. Lima tahun dianggap mati dalam pemberontakan berdarah, kini ia berdiri di hadapan Kaisar, kakak kandungnya, *Yang Mulia Li Wei*. Li Wei, yang kini rambutnya mulai dihiasi perak, menatapnya dengan tatapan tak terbaca. Jubah naga emasnya tampak terlalu berat di pundaknya. "Lian?" bisiknya, suaranya serak. "Mustahil..." Lian tersenyum tipis. Senyum yang dulu cerah bagai mentari pagi, kini dingin bagai es di musim salju. "Yang Mulia terkejut? Bukankah Yang Mulia yang menitahkan kematianku?" "Itu... itu untuk melindungimu!" sergah Li Wei, raut wajahnya dipenuhi siksaan. "Pemberontak mengincar nyawamu! Aku harus berpura-pura... Aku..." Lian melangkah maju, aroma cendana dan darah menyelimuti tubuhnya. "Melindungiku? Atau melindung *diri* Anda sendiri, Yang Mulia?" Udara di lorong terasa membeku. Lilin-lilin di dinding berkedip-kedip, seolah ketakutan mendengar kata-kata Lian. "Tahukah Anda, Yang Mulia," lanjut Lian, suaranya lembut namun setajam pedang, "bahwa pemberontakan itu... adalah *rekayasaku*?" Li Wei terhuyung mundur, menyentuh pilar batu untuk menopang tubuhnya. "Tidak... tidak mungkin..." "Mungkin," jawab Lian, tangannya terangkat, memperlihatkan cincin giok hijau di jarinya, cincin yang sama yang dulu dipakai pemimpin pemberontak. "Aku melihat bagaimana Anda, kakakku yang tercinta, menghancurkan rakyat demi kekuasaan. Aku melihat bagaimana Anda menikam teman demi tahta. Aku harus *menghentikanmu*." Li Wei menatap adiknya dengan tatapan kosong. Seluruh kekuasaan dan keagungan yang dimilikinya terasa runtuh di hadapannya. "Jadi, semua sandiwara ini... semua kesedihan... itu..." "Semua adalah untukmu, Yang Mulia," potong Lian. "Aku mencintaimu cukup untuk *tidak* memelukmu lagi. Aku mencintaimu cukup untuk menghancurkanmu." Lian berbalik, meninggalkan Li Wei terkapar di lorong yang sunyi. Bayangannya memanjang di dinding, menelan cahaya lilin yang tersisa. Di kejauhan, kabut di Pegunungan Giok tampak semakin pekat, menyembunyikan kebenaran yang lebih mengerikan dari apa pun yang bisa dibayangkan. Kemudian, di tengah kesunyian yang menyesakkan, terdengar bisikan yang nyaris tak terdengar: *Semuanya telah kuatur sejak awal, Yang Mulia, bahkan kejatuhanmu sendiri.*
You Might Also Like: Reseller Skincare Fleksibel Kerja Dari

0 Comments: