**Ia Menyebut Namaku di Tengah Pertarungan, Lalu Mati Tanpa Menang** Hujan di atas makam Kaisar Wan, sebuah melodi kelabu yang tak henti ber...

SERU! Ia Menyebut Namaku Di Tengah Pertarungan, Lalu Mati Tanpa Menang SERU! Ia Menyebut Namaku Di Tengah Pertarungan, Lalu Mati Tanpa Menang

SERU! Ia Menyebut Namaku Di Tengah Pertarungan, Lalu Mati Tanpa Menang

SERU! Ia Menyebut Namaku Di Tengah Pertarungan, Lalu Mati Tanpa Menang

**Ia Menyebut Namaku di Tengah Pertarungan, Lalu Mati Tanpa Menang** Hujan di atas makam Kaisar Wan, sebuah melodi kelabu yang tak henti berdendang. Setiap tetesnya seperti _air mata_ arwah yang bergentayangan, terjebak di antara dunia hidup dan dunia mati. Di sanalah aku berdiri, bukan lagi manusia, melainkan bayangan yang **menolak** pergi. Dulu, namaku Li Wei, seorang jenderal yang berjanji setia pada Kaisar. Dulu, aku memiliki bibir yang bergetar ingin mengakui sebuah rahasia. Tapi pedang telah menembus dadaku sebelum kata-kata itu sempat terucap. Sekarang, aku adalah roh yang tak punya nama, hantu dari penyesalan abadi. Aku kembali bukan untuk balas dendam, meskipun dengung amarah masih beriak di kedalaman jiwaku. Aku kembali karena sesuatu yang tertinggal, janji yang belum terpenuhi, kebenaran yang terkubur bersama jasadku. Di dunia fana, bayanganku menari di antara para prajurit. Mereka bertarung dengan keberanian yang sia-sia, merebut kekuasaan yang hampa. Aku melihat *Xia Qing*, putri Kaisar Wan, mewarisi tatapan keras kepala ayahnya. Ia bertempur, berteriak, membenci. Namun di matanya, aku melihat kesedihan yang tersembunyi. Ia menyebut namaku di tengah pertarungan. Ya, **namaku**! Di tengah kekacauan, di tengah kematian, ia menyebut namaku. Suaranya bagai lonceng perunggu di kuil yang sepi, menggetarkan keberadaanku. "Li Wei!" teriaknya, pedangnya berlumuran darah. "Di mana kamu?!" Aku tidak bisa menjawab. Hanya angin yang menggema, membawa _desahan_ arwahku. Aku ingin memeluknya, mengatakan kepadanya bahwa aku ada di sini, selalu di sini. Tapi aku hanyalah bayangan, hantu yang tak berdaya. Aku mengikuti Xia Qing, membuntuti setiap langkahnya. Aku menyaksikan ia memenangkan pertempuran, merebut tahta. Tapi kemenangan itu hambar, seperti anggur yang basi. Suatu malam, aku melihatnya berdiri di depan makam Kaisar Wan, memandang nisan itu dengan tatapan kosong. Hujan masih turun, membasahi rambutnya. "Aku tahu," bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar. "Ayah mempercayaimu lebih dari siapa pun, Li Wei. Bahkan lebih dari diriku sendiri." Air matanya bercampur dengan hujan. Di sanalah, di antara nisan yang berlumuran lumut, aku menyadari. Aku tidak mencari balas dendam. Aku mencari **kedamaian**. Kedamaian untuk diriku sendiri, kedamaian untuk Xia Qing, kedamaian untuk Kaisar Wan yang telah pergi. Rahasia yang ingin kuucapkan bukan tentang pengkhianatan atau konspirasi. Rahasia itu adalah **cinta**. Aku mencintai Xia Qing. Aku mencintai tanah ini. Aku mencintai kehormatan. Dan sekarang, melihat ia berdiri di sana, kuat namun rapuh, aku tahu tugasku telah selesai. Ia tahu. Ia selalu tahu. Bayanganku memudar, perlahan menghilang ke dalam kegelapan. Hujan masih turun, mencuci dosa-dosa masa lalu. Dunia arwah menjemputku, membawa aku ke tempat peristirahatan abadi. *Aku akhirnya bisa melepaskan…*
You Might Also Like: Arti Mimpi Menangkap Pari Jangan

0 Comments: