## Janji yang Tertinggal di Ruang Tahta Layla, sang ahli kode di Neo-Jakarta 2247, mendapati dirinya terpaku pada layar hologram. Lagi-lag...

Drama Abiss! Janji Yang Tertinggal Di Ruang Tahta Drama Abiss! Janji Yang Tertinggal Di Ruang Tahta

Drama Abiss! Janji Yang Tertinggal Di Ruang Tahta

Drama Abiss! Janji Yang Tertinggal Di Ruang Tahta

## Janji yang Tertinggal di Ruang Tahta Layla, sang ahli kode di Neo-Jakarta 2247, mendapati dirinya terpaku pada layar hologram. Lagi-lagi. Notifikasi kosong berkedip, janji pesan dari 'Xiao Wei' tak kunjung tiba. Xiao Wei, si ahli kaligrafi dari Dinasti Ming, terjebak dalam simulasi sejarah yang glitchy, satu-satunya jembatan Layla menuju masa lalu yang *hilang*. "Sial," desis Layla, jemarinya menari di atas keyboard virtual. "Algoritma Cinta Terlarang ini benar-benar ***RUSAK***." Xiao Wei, di sisi lain, merasakan tinta kunonya membeku di atas kertas lontar. Aroma dupa cendana yang biasanya menenangkan kini berubah menjadi bau logam karat. Layarnya, portal menuju masa depan yang dijanjikan Layla, menampilkan *LOADING* tanpa henti. Dia mendengar suara Layla, sayup-sayup seperti gema dari mimpi yang terlalu indah untuk jadi kenyataan. "Wei... aku di sini! Kodeku hampir selesai! Tunggu aku!" Di antara dentuman mesin dan kicauan burung pipit (hasil rekayasa genetika, tentu saja), Layla mencoba menyusun ulang timeline yang berantakan. Dia membaca puisi-puisi Xiao Wei, diterjemahkan oleh AI kuno, seolah mencari petunjuk. Bait-bait tentang rembulan dan sungai, tentang rindu yang tak terungkapkan, tentang janji pertemuan di **RUANG TAHTA**. Ruang tahta? Dimana pula itu di abad ke-23? Layla menemukan jawabannya di arsip digital tergelap. Ruang tahta bukan sekadar tempat. Itu adalah *simpul waktu*, titik di mana energi temporal bertemu, di mana masa lalu dan masa depan bisa saling bersentuhan. Tempat itu terkubur di bawah reruntuhan Kota Terlarang, terkunci oleh teknologi purba yang hanya bisa diakses oleh... seseorang dengan *DNA Xiao Wei*. Xiao Wei, sementara itu, berjuang melawan kabut digital yang semakin pekat. Dia melihat bayangan Layla di permukaan danau buatan di istananya. Wajahnya, diterangi oleh cahaya biru hologram, begitu **FRAGILE**. "Layla, aku..." suaranya tercekat. "Aku takut... Aku lupa... Apa yang kita janjikan?" Layla menyuntikkan dirinya dengan dosis adrenalin sintetik. Dia harus pergi ke sana. Ke masa lalu. Ke ruang tahta. Dia mencuri prototipe kendaraan penjelajah waktu dari lab terlarang, mengabaikan peringatan dan ancaman yang berkedip di depannya. Di ruang tahta, Layla menemukan Xiao Wei terbaring lemah di atas lantai marmer. Simulasi itu memakannya hidup-hidup. Di tangan Xiao Wei, tergenggam erat sebuah gulungan lontar yang penuh dengan simbol-simbol aneh. Layla membaca simbol-simbol itu. Itu bukan kaligrafi. Itu kode. *Kode Layla sendiri*. Kode untuk membebaskan Xiao Wei dari simulasi. Tapi ada satu baris yang aneh, yang belum pernah dilihat Layla sebelumnya. Sebuah baris yang mengatakan... **"KAMU... AKU... KITA... ADALAH SATU... YANG TERJATUH... BERULANG KALI..."** Saat itulah Layla menyadari. Dia dan Xiao Wei bukan orang yang berbeda. Mereka adalah *fragmen memori* dari seseorang yang pernah hidup, mati, dan dilahirkan kembali, terperangkap dalam lingkaran waktu yang tak berkesudahan. Cinta mereka bukan cinta yang baru. Itu adalah gema dari kehidupan yang tak pernah selesai. Kemudian, dunia di sekitar mereka mulai runtuh. Simulasi itu mati. Layar hologram padam. Satu-satunya yang tersisa adalah Layla, menggenggam erat gulungan lontar itu, sendirian di tengah reruntuhan. ...dan hembusan angin terakhir membawa bisikan pelan, "Jangan lupakan... *kita*..."
You Might Also Like: Reseller Skincare Usaha Sampingan_5

0 Comments: