Baiklah, ini dia kisah pendek bergaya dracin absurd yang kamu minta: **Aku Membunuhmu Perlahan, Tapi dengan Cinta yang Sama.** Dunia ini, seperti sinyal *hape*ku, seringkali hilang timbul. Di antara bangunan-bangunan yang berkarat dan langit yang selalu senja, aku mencarimu. Bukan sosokmu, tapi *resonansi* dirimu. Di sini, di tahun 2077, kenangan adalah mata uang paling berharga, dan aku bangkrut tanpamu. Namamu, kurapal seperti mantra Wi-Fi di kafe kumuh ini: *Aisya*. Dulu, sebelum dunia meledak jadi pecahan-pecahan _selfie_ dan meme, kamu hidup di sana. Di era ketika senja benar-benar senja, bukan filter Instagram. Katanya, kamu menyukai *teh oolong* dan benci *sokap*. Aku tahu ini dari _fragmentasi_ data sisa-sisa kehidupanmu yang kutemukan di _cloud_ purba. Aku mencoba menghubungimu. Setiap malam, aku mengirim pesan ke masa lalu, berharap ada keajaiban temporal yang membuat notifikasi "sedang mengetik..." muncul di layar ponselmu. Tapi yang kudapatkan hanya kesunyian. Sunyi yang lebih nyaring dari *alarm* nuklir. Suatu hari, sebuah pesan tiba. Bukan darimu, tapi dari entitas aneh bernama "Echo Protocol." Isinya: "Aisya menunggu. Tapi dia di dimensi yang berbeda. Dimensi di mana masa depan adalah masa lalu." Aku bingung. Kacau. Seperti *ramen* instan dicampur *espresso*. Lalu, aku melihatnya. Di pantulan kaca jendela. Sosokku. Tapi bukan *aku*. Sosokku yang berpakaian aneh, membawa *walkman* dan... *kamera polaroid*? Dia mendekat, membisikkan kata-kata yang membuat dadaku sesak: "Aku... adalah Aisya. Atau, *dulu* adalah Aisya. Aku terjebak di masa lalu, mencoba menghubungimu, masa depanku. Tapi setiap pesan yang kukirim, malah membunuhmu... membunuhmu perlahan dengan harapan." **INI TIDAK MUNGKIN!** Ternyata, setiap usahaku mencari Aisya di masa lalu, mengirimkan gelombang elektromagnetik yang mengganggu *temporal flow* di masa depanku. Aku, secara harfiah, menghilang sedikit demi sedikit setiap kali dia mencoba menghubungiku. Cinta kami, ironisnya, adalah racun yang mematikan. Aku menatapnya. Diriku. Aisya. Masa lalu. Masa depan. Semua berputar jadi satu pusaran *pixellate*. Sebelum semua gelap, dia tersenyum. Senyum yang sama persis dengan yang kulihat di foto *polaroid* kumal yang selalu kubawa. Senyum yang menyakitkan, sekaligus menenangkan. "Aku tahu," bisiknya, "Kita hanya gema... dari kehidupan yang tak pernah selesai." Dan dunia... padam. _Mungkin, di alam semesta yang lain, kita hanya dua kode algoritma yang mencoba saling mendekat, sampai akhirnya overheat dan meledak..._
You Might Also Like: Roana Dan Blade Soul Itssky Itsskylol

0 Comments: