**Bayangan yang Mengintai di Balik Cermin** Malam di Kota Terlarang terasa *abadi*, berat seperti tabir sutra yang tak terangkat. Salju turu...

TOP! Bayangan Yang Mengintai Di Balik Cermin TOP! Bayangan Yang Mengintai Di Balik Cermin

TOP! Bayangan Yang Mengintai Di Balik Cermin

TOP! Bayangan Yang Mengintai Di Balik Cermin

**Bayangan yang Mengintai di Balik Cermin** Malam di Kota Terlarang terasa *abadi*, berat seperti tabir sutra yang tak terangkat. Salju turun tanpa ampun, mewarnai halaman istana dengan lapisan putih yang suci... atau mungkin, kelak, ternoda merah. Di dalam Paviliun Anggrek, aroma dupa melayang, bercampur dengan bau *besi* dan... ketakutan. Ling Xia, putri mahkota yang disingkirkan, berdiri di depan cermin antik. Pantulannya bukanlah seorang putri yang anggun, melainkan bayangan seorang pejuang yang terluka. Mata ambernya, biasanya berkilau dengan kecerdasan, kini dipenuhi *kebencian* yang membara. Kebencian untuk Lian, sang jenderal agung, kekasih yang mengkhianatinya, pria yang menikahi adik tirinya dan merebut takhta yang seharusnya menjadi miliknya. Lian. Namanya bagai mantra mematikan di bibirnya. Dulu, mereka saling bersumpah di bawah pohon *plum* yang mekar. Janji cinta diukir di kulit mereka, janji yang kini terasa seperti luka menganga. Mereka berjanji untuk saling melindungi, untuk membangun kerajaan yang adil bersama. Kini, janji itu hanya abu yang beterbangan di tengah badai salju. Lian memasuki paviliun, bayangannya tinggi dan mengintimidasi. Jubah perang hitamnya kontras dengan salju yang menempel di bahunya. Matanya, sedalam jurang tak berdasar, menatap Ling Xia. Di sana, tercermin *penyesalan*, atau mungkin hanya ilusi belaka. "Xia..." desisnya, suaranya serak. "Jenderal Lian," jawab Ling Xia, suaranya dingin seperti es. "Apa yang membawamu ke sini? Bukankah seharusnya kau bersama *permaisurimu*?" Kata-kata itu bagai cambuk, mencambuk Lian. "Aku datang untuk menjelaskan." "Menjelaskan? Apa yang perlu dijelaskan? Kau mengambil segalanya dariku!" Ling Xia menunjuk ke pantulan cermin. "Lihat aku! Bayangan diriku yang dulu. Kau yang menciptakannya, Lian. Kau yang mengubahku menjadi monster." Pertemuan mereka menjadi pertarungan tanpa pedang. Setiap kata adalah tusukan, setiap hembusan napas adalah ancaman. Lian mencoba menjelaskan, memohon pengertian, membungkam desas-desus konspirasi dan paksaan. Dia dipaksa menikahi adik tirinya demi menjaga stabilitas kerajaan, demi menyelamatkan nyawa Ling Xia. Tapi, kata-katanya jatuh di telinga tuli. Kebencian telah membutakan Ling Xia. Di bawah tatapan dingin Ling Xia, Lian berlutut. Sebuah pengakuan *memilukan* terucap dari bibirnya. Dia tidak pernah berhenti mencintainya. Pernikahannya adalah pengorbanan, bukan pengkhianatan. Air mata mengalir di pipinya, bercampur dengan salju yang meleleh. Ling Xia tertawa, tawa tanpa kebahagiaan, tawa yang membangkitkan bulu kuduk. Dia mendekat, mengangkat dagu Lian. "Cinta? Kau berbicara tentang cinta, Lian? Di atas *abu* janji kita?" Dia menciumnya. Ciuman terakhir, ciuman yang dipenuhi racun. Bukan racun mematikan, tapi racun yang membekukan jiwa. Racun yang akan menggerogoti hatinya perlahan, membuatnya hidup dengan rasa bersalah dan penyesalan yang tak berkesudahan. Lian tersenyum pahit, merasakan racun itu menyebar di dalam tubuhnya. Dia pantas mendapatkannya. Dia pantas menerima balasan dari hati yang telah lama menanti. Ling Xia melepaskan ciumannya, menatap Lian dengan mata *tanpa emosi*. Lian roboh di hadapannya, seperti boneka yang kehilangan benangnya. Darah merembes di salju putih, lukisan kematian yang sempurna. Ling Xia berbalik, meninggalkan Lian di paviliun yang sunyi. Dia berjalan menuju kegelapan, meninggalkan jejak kaki di salju yang perlahan tertutup. Balas dendamnya telah terbayar. Tapi kebahagiaan... tidak ada. Di depan cermin, pantulan Ling Xia menatapnya dengan senyum dingin. Senyum yang mengandung janji dan ancaman. Senyum yang membuat siapapun yang melihatnya akan merinding dalam diam, karena bayangan yang mengintai di balik cermin kini… *bebas*.
You Might Also Like: Alasan Sunscreen Mineral Untuk Kulit

0 Comments: