Baiklah, inilah kisah pendek bergaya dracin yang Anda inginkan: **Kau Menatapku di Malam Terakhir, dan Aku Tahu Itu Selamat Tinggal** Hujan gerimis menari di balik jendela kaca, mencerminkan air mata yang enggan tumpah. Di balik gaun sutra berwarna *midnight blue*, aku berdiri, menyaksikan punggungnya menjauh. Punggung yang dulu kurangkul dengan percaya, kini terasa asing dan dingin. Malam itu, ia menatapku. Tatapan yang *SELAMAT TINGGAL*. Bukan tatapan penuh cinta seperti dulu, melainkan tatapan penuh… kebohongan. Senyumnya, yang dulu membuat hatiku berdebar, kini terasa seperti *senyum menipu*. Janji-janji manis yang pernah terucap, berbuah menjadi *belati* yang menghunjam jantungku. Pelukannya, yang dulu kurasa hangat dan aman, kini terasa *beracun*. Pelukan terakhir itu, kurasakan hambar, kosong. Aku tahu, di balik senyumnya, ada rahasia kelam yang akan meruntuhkan duniaku. Aku tidak menangis. Aku seorang wanita terhormat, dilatih untuk menyembunyikan luka di balik topeng *elegansi*. Aku berdiri tegak, menahan badai yang bergejolak di dalam hatiku. Aku membiarkannya pergi, dengan anggukan kecil dan senyum simpul yang kupaksakan. Beberapa bulan kemudian, aku melihatnya lagi. Bukan di altar pernikahan seperti yang dulu kami impikan, melainkan di ruang sidang. Skandal korupsi yang selama ini disembunyikannya terbongkar. Namanya tercoreng, reputasinya hancur. Hartanya disita. Semua yang dia bangun dengan susah payah, lenyap dalam semalam. Aku tidak tersenyum. Aku tidak bersukacita. Aku hanya merasakan *kekosongan*. *Bukan darah yang kubutuhkan, melainkan penyesalannya yang abadi*. Aku tahu, hukuman terberat baginya bukanlah penjara, melainkan kenyataan bahwa ia telah kehilangan segalanya, termasuk diriku. Balas dendamku bukanlah tentang kekerasan atau amarah. Balas dendamku adalah tentang *keadilan* dan *penyesalan* abadi yang akan menghantuinya seumur hidup. Aku tidak pernah mengungkap keterlibatanku, namun aku tahu, dia tahu. Dia tahu bahwa akulah dalang di balik kehancurannya. Aku meninggalkannya dalam kehancuran. Tidak ada kata-kata perpisahan. Tidak ada air mata. Hanya tatapan dingin yang membuktikan bahwa aku telah *move on*, dan dia…dia akan hidup dengan penyesalannya. Aku berjalan menjauh, meninggalkan masa lalu yang pahit. Aku tahu, aku telah memenangkan pertempuran ini. Tapi di dalam hatiku, aku bertanya-tanya…apakah kemenangan ini benar-benar membuatku bahagia? Cinta dan dendam… lahir dari tempat yang sama.
You Might Also Like: 1700 Flyhawk Dkm Bismarck Gallery Of

0 Comments: