Baiklah, ini dia cerita pendek ala Dracin dengan sentuhan yang Anda minta: **Kau Mencium Tanganku, Tapi Dinginnya Tak Pernah Hilang** Alunan guqin meliuk di malam yang sunyi, senada dengan desiran angin yang menerobos celah jendela rumah bambu. Jari-jariku, yang dulu lentik menari di atas senar, kini kaku menggenggam cangkir teh hangat. Teh itu pahit, seperti sisa-sisa kenangan yang tak pernah benar-benar hilang. Dulu, malam-malam seperti ini dipenuhi tawa. Tawa *kami*. Sekarang, hanya kesunyian yang bergaung, diperparah oleh bayangan wajahnya. Wajah *Qing*, yang dulu begitu kurindukan. Dulu, bibirnya akan menempel lembut di punggung tanganku, sebuah janji kesetiaan abadi. Tapi bahkan saat itu, aku merasakan *dingin*. Dingin yang tak bisa dijelaskan. Dingin yang seharusnya menjadi peringatan. ***DIA*** mencium tanganku, tapi dinginnya tak pernah hilang. Aku tahu, jauh di lubuk hatiku, *dia* menyimpan rahasia. Sebuah rahasia yang lebih besar dari samudra. Aku melihatnya di matanya, di setiap gerak-geriknya yang tiba-tiba canggung, di setiap keheningan yang terlalu lama. Aku memilih diam. Bukan karena lemah. Bukan. Aku memiliki alasan yang lebih kuat. Sebuah alasan yang terkait erat dengan *bunga teratai putih*, lambang keluarga Jiang, keluarga yang telah kuhianati demi Qing. Rahasia kami adalah mata uang yang kujaga. Jika terungkap, bukan hanya aku yang hancur, tapi seluruh keluarga Jiang. Aku rela menanggungnya sendiri. Namun, takdir punya cara unik untuk membalas dendam. Beberapa tahun berlalu. Qing berhasil mencapai puncak kekuasaan, persis seperti yang dia impikan. Dia menjadi jenderal besar, dihormati dan ditakuti. Aku, di sisi lain, tetap tersembunyi di balik dinding rumah bambu, menua bersama kesunyian. Suatu hari, kurir datang membawa berita. Berita yang menghancurkan seluruh sisa-sisa harapan yang masih kupelihara. Qing dituduh berkhianat. Bukti-bukti mengarah kepadanya. Hukuman mati menantinya. Aku tahu. Aku *T A H U* siapa yang merencanakan ini. Jiang Liwei, sepupu jauhku, pewaris sah keluarga Jiang yang dulu kukhianati. Dia tidak pernah melupakan pengkhianatanku. Qing dijebak dengan sempurna. Jejak-jejak pengkhianatan keluarga Jiang, yang dulu kulindungi mati-matian, kini digunakan untuk menghancurkan Qing. Balas dendam Jiang Liwei begitu *indah*, begitu *pahit*. Tanpa kekerasan, tanpa pertumpahan darah. Hanya takdir yang berbalik arah. Hanya kebenaran yang akhirnya terungkap. Aku tidak melakukan apa pun. Aku hanya duduk diam di rumah bambu, mendengarkan alunan guqin yang semakin lirih. Di pengadilan, Qing bersikeras tidak bersalah. Dia menuntut keadilan. Tapi keadilan, seperti cinta, hanyalah ilusi. Sebelum hukuman mati dilaksanakan, Qing meminta bertemu denganku. Di dalam penjara yang dingin, dia meraih tanganku. Tangannya gemetar. Matanya penuh penyesalan. "Maafkan aku," bisiknya. "Aku seharusnya mendengarkanmu. Aku seharusnya mempercayaimu." Aku hanya tersenyum tipis. "Dinginnya... tak pernah hilang, bukan?" Qing menunduk. Air mata menetes di atas tanganku. Dan saat algojo mengangkat pedangnya, aku tahu bahwa rahasia kami akan terkubur selamanya. Aku kembali ke rumah bambu, dan alunan guqin terdengar lebih memilukan dari sebelumnya. **Dia mencium tanganku, tapi dinginnya tak pernah hilang... dan sekarang, dinginnya menyelimuti seluruh NEGERI!**
You Might Also Like: Agen Kosmetik Modal Kecil Untung Besar

0 Comments: