## Kau Membawakanku Bunga Liar, Padahal Aku Punya Taman Terindah Hujan gerimis membasahi paviliun bambu. Aroma teh krisan yang pahit seakan menertawakan getirnya pertemuanku kembali dengannya, setelah sepuluh musim semi berlalu. Wajahnya, yang dulu secerah mentari pagi, kini dipenuhi kerutan halus, lukisan waktu yang tak bisa dihapus. Rambutnya, yang dulu bagai sutra hitam yang berkilau, kini disisipi benang-benang perak. Ia mendekat, ragu-ragu. Di tangannya, tergenggam sebuket bunga liar. Bukan mawar merah yang dulu sering dipersembahkannya, bukan juga anggrek bulan yang kupuja. Hanya bunga-bunga kecil dengan warna yang sederhana, dipetik dari pinggir jalan. "Lian," suaranya serak, nyaris tak terdengar di antara gemericik hujan. "Aku… aku tahu ini terlambat." Aku mengangkat tangan, menghentikannya. Di hadapanku, terbentang pemandangan taman terindah yang pernah kurawat. Danau buatan dengan ikan koi berwarna-warni, pepohonan bonsai yang berusia ratusan tahun, dan ribuan bunga dari seluruh penjuru dunia yang bermekaran. Sebuah _simfoni keindahan_ yang kuhadirkan sebagai pengingat atas janji yang ia ingkari. **JANJI**. Kata itu berdentang di kepalaku seperti lonceng kematian. Dulu, di bawah pohon sakura yang sama, ia berjanji akan menemaniku membangun taman ini. Ia berjanji akan menjadi matahariku, menyinari setiap langkahku. Tapi ia pergi, memilih kekayaan dan kekuasaan, meninggalkan aku dan impian kami yang hancur berkeping-keping. "Kau membawakanku bunga liar, Lian?" Aku tersenyum pahit. "Padahal, kau tahu… aku punya taman terindah." Air mata mengalir di pipinya. "Aku… aku menyesal. Aku tahu tak ada yang bisa menebus kesalahanku." **MENYESAL**. Apakah kata itu bisa mengembalikan sepuluh tahun hidupku yang kurajut dalam kesunyian dan kesendirian? Apakah kata itu bisa menghapus rasa sakit yang menggerogoti hatiku setiap malam? Aku bangkit, mendekatinya. Kuambil buket bunga liar itu dari tangannya. Bunga-bunga itu layu dan tak terawat, persis seperti hatiku dulu. "Kau benar," ujarku, suaraku tenang, namun dingin. "Tak ada yang bisa kau lakukan untuk menebusnya." Kulemparkan bunga-bunga itu ke dalam danau. Ikan-ikan koi berkerumun, mengira itu makanan. Pemandangan itu… _mendamaikan_. "Dulu, aku percaya cinta adalah segalanya. Aku percaya kau adalah takdirku." Aku menatap matanya, mata yang dulu begitu kukenal, kini terasa asing. "Sekarang, aku percaya bahwa **TAKDIR** punya cara sendiri untuk menuntut keadilan." Ia menunduk, tak berani menatapku. Ia tahu, ia telah kehilangan segalanya. Bukan hanya cintaku, tapi juga rasa hormatku. Aku berbalik, meninggalkannya sendirian di bawah paviliun bambu. Hujan semakin deras. Mungkin aku akan memaafkannya, tapi mungkin juga tidak, karena hidupnya, seperti bunga liar itu, sudah layu di hadapan taman kebahagiaanku.
You Might Also Like: Tips Paket Skincare Lokal Untuk Kulit

0 Comments: