**Janji yang Kucuri dari Bibir Musuh** Langit Danau Bulan Sabit malam itu adalah kanvas biru kelam bertabur intan. Cahaya bulan menari di pe...

Kisah Seru: Janji Yang Kucuri Dari Bibir Musuh Kisah Seru: Janji Yang Kucuri Dari Bibir Musuh

Kisah Seru: Janji Yang Kucuri Dari Bibir Musuh

Kisah Seru: Janji Yang Kucuri Dari Bibir Musuh

**Janji yang Kucuri dari Bibir Musuh** Langit Danau Bulan Sabit malam itu adalah kanvas biru kelam bertabur intan. Cahaya bulan menari di permukaan air, membias di wajah Lin Wei, pucat pasi diterangi cahaya obor. Di hadapannya, berdiri tegak Zhao Yi, jubah hitamnya berkibar ditiup angin malam. Dulu, angin yang sama membawa bisikan cinta di antara mereka, sekarang hanya membawa dingin yang menusuk tulang. "Kau..." Suara Lin Wei bergetar, serak tertahan air mata. "Kau membunuh ayahku." Zhao Yi tidak menjawab. Matanya, yang dulu selalu berbinar menatapnya dengan penuh kasih, kini sedingin es. Dulu, Lin Wei terpesona dengan ketampanannya, terbius oleh janji-janji yang diukirkan di hati. Sekarang, wajah itu adalah topeng kepalsuan, janji-janji itu adalah bara api yang membakar jiwanya. "Bukankah kau berjanji... akan melindungiku? *BERJANJI*!" Lin Wei berteriak, air mata akhirnya tumpah ruah. Dia ingat, malam di bawah pohon sakura yang tengah berbunga, Zhao Yi berlutut di hadapannya, menggenggam tangannya erat. "Aku bersumpah akan melindungimu dari segala bahaya, Wei'er. Nyawaku taruhannya." Kata-kata itu terngiang-ngiang di telinganya, **SEAKAN MENCEMOOH!** Zhao Yi tetap membisu. Di matanya, Lin Wei melihat kilatan penyesalan, sekelebat rasa sakit yang cepat-cepat disembunyikannya. *Terlambat.* Sudah terlalu terlambat. Darah ayahnya, darah klan Lin, telah menodai tangannya. "Kau... kau adalah musuhku sekarang," bisik Lin Wei, suaranya hampir tak terdengar. "Aku tahu." Jawaban Zhao Yi singkat, padat, menusuk tepat di jantungnya. Lin Wei menarik napas dalam-dalam. Dia tidak akan menangis. Tidak lagi. Dia akan mengambil kembali janjinya. Janji perlindungan itu. Janji cinta abadi itu. Janji yang dikhianati itu. "Kau tahu apa yang paling menyakitkan, Zhao Yi?" Lin Wei bertanya, matanya berkilat dingin. "Bukan kematian ayahku. Tapi kenyataan bahwa aku *PERNAH* mencintaimu." Zhao Yi menunduk, wajahnya tersembunyi dalam bayangan. Dia tahu. Dia tahu bahwa rasa sakit yang dia timbulkan akan lebih lama membekas daripada tusukan pedang. Lin Wei berbalik, meninggalkan Zhao Yi berdiri di tepi danau. Dia tidak akan membalas dendam dengan tangannya sendiri. Tidak akan ada pertempuran berdarah. Tidak ada intrik keji. Biarkan takdir yang menuntut keadilan. Biarkan kekuatan yang lebih besar dari dirinya yang menghukumnya. Dia hanya perlu memastikan bahwa Zhao Yi akan hidup dengan penyesalan, dengan kesadaran bahwa dia telah kehilangan sesuatu yang tak ternilai harganya. Bertahun-tahun kemudian, Zhao Yi, yang telah mencapai puncak kekuasaan, hidup dalam kesendirian yang mencekam. Dia memiliki segalanya, kecuali satu hal: *cinta Lin Wei.* Berita tentang Lin Wei, yang membangun kembali klan Lin menjadi kekuatan yang disegani, selalu sampai padanya. Namun, Lin Wei tak pernah sekalipun menoleh ke belakang. Takdir mempermainkan mereka, menempatkan mereka di sisi yang berlawanan, terpisah selamanya. Dan di saat-saat kesunyian, Zhao Yi selalu mendengar bisikan angin malam, membawa satu pertanyaan yang tak pernah bisa dijawab: Apakah cinta yang hilang lebih menyakitkan daripada dendam yang terbalaskan?
You Might Also Like: Explore Extraordinary Wealth Of

0 Comments: